R.I.P. Bj Habibie: Orang BENAR yang Hidup di Tempat SALAH

Oleh Rian Irawan Hariadi*

Innalillahi wa innalillahi rojiun, telah berpulang ke Ramahtullah pada tanggal 12 September 2019, Prof Dr. Ing. Bj. Habibie, mantan Presiden Indonesia ke 3, mantan Menristek 4 periode selama orde Baru, dan Bapak Teknologi Indonesia, salah seorang Tokoh Intelektual paling Hebat yang pernah dimiliki bangsa ini.

Penulis berdoa akan Arwah Almarhum semoga diterima di sisi Allah SWT, diampui dosa-dosanya, amal kebaikannya di dunia dilipatgandakan, dan dimasukkan ke dalam jannah . Amin.

Tapi tulisan ini bukan tulisan dukacita. Penulis menulis sendiri mewakili perasaan miris roh beliau dan juga roh ribuan intelektual lain, baik yang sudah meninggal maupun masih hidup (termasuk Andakah?)

Apakah intelektual di negara ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia dihargai ?

Jawabannya tergantung bagaimana mendefinisikan kata ‘intelektual’ dan kata ‘dihargai’ . Pertama, jika yang Anda maksud ‘inelektual’ adalah lulusan S3, Doktor, ya mereka memang banyak, tetapi jika yang dimaksud adalah intelektual yang berkarya, yang banyak melakukan riset dan menghasilkan penemuan seperti BJ. Habibie, ya maaf, jumlahnya sedikit sekali.

Kamudian soal ‘dihargai’ , jika yang Anda maksud gaji, ketahui saja bahwa di negara maju seperti Jerman dan AS sekalipun, seorang ilmuwan riset gajinya ya ‘segitu-segitu’ aja, setinggi-tingginya gaji seorang ilmuwan di negara maju pun, mereka tidak akan bisa membeli Lamborgini atau kapal pesiar. Standar hidup mereka kurang lebih sama dengan kaum intelektual di sini, hanya saja rate nya yang berbeda.

Tapi okelah kita tinjau dari soal lain saja. Soal akses. Akses untuk berkarya.

Mari kita kembali ke Eyang Habibie. BJ. Habibie selama hidupnya telah menghasilkan 46 paten, sebagian besar di industri teknologi penerbangan termasuk Teori Crack.

Habibie kebetulan berutung karena ‘diasuh’ oleh Penguasa Orde Baru, Soeharto, dan (kebetulan juga) Soeharto memiliki ambisi yang sejalan: menguasai teknologi dirgantara.

Dan modal inilah yang membuat BJ Habibie, bisa berkarya, ber-eksplorasi, dan mewujudkan hasratnya di bidang teknologi. Dia mendapatkan “Penghargaan Yang Pantas” sebagai Kaum intelektual di Indonesia.

Berbekal dari itu. Jabatan Habibie bukan lagi Menteri Pemimpin Departemen tapi Menteri Negara, setingkat di atas itu, yaitu Menteri Negara Riset dan Teknologi, dan itu selama 4 Pelita (20 tahun). Beliau membangun PT DI d.h. IPTN, BPPT, Puspitek, PINDAD, PAL , singkatnya industri-industri yang diperkirakan bernilai strategis.

Nasib Kaum Intelektual di Indonesia
Sayang, sosok seperti Habibie hanyalah satu dari sekian banyak kaum cendekiawan teknologi yang di mana sebagian besar kesulitan mendapatkan akses pengembangan dan modal di negara ini.

Tidak!

TIDAK! Penulis tidak bicara soal uang di sini. Yang dimaksud modal bukanlah soal materi, tapi soal kesempatan berkarya, soal fasiltas, dukungan politik (Political Will) untuk pengembangan untuk Riset dan Teknologi sesuai dengan bidang yang dikuasainya.

Riset Yang Terbengkalai
Salah satu indikator kemajuan Indikator Riset satu negara adalah Pendaftaran Hak Cipta dan Hak Paten, yang dilakukan oleh negara itu setiap tahunnya. Kenapa? Sebab Hak Patent menunjukkan adanya sesuatu yang baru dalam soal teknologi dan inovasi, artinya apa? Artinya riset teknologi di negara itu berkembang, karena setiap tahun selalu ada banyak penemuan baru.

Daftar trend perkembangan pendaftaran Patent teknologi tahunan

Berdasarkan data patent Internasional (lihat sumber), negara paling produktif mendaftarkan paten adalah Cina. Cina betul-betul melakukan lompatan yang luar biasa dalam hal inovasi dan penemuan setelah tahun 1980-an (Era Deng Xiaoping), Cina kini setiap tahunnya mendaftarkan aplikasi patent hampir 1,5 juta aplikasi, 2 kali lipat dari pesaing terdekat, Amerika Serikat.

Kita bisa lihat perbandingan Patent Applicant pada tahun 2016, warna Indikator menunjukkan berapa banyak Patent didaftarkan dalam suatu negara selama setahun.

Berdasarkan warna Indonesia dalam peringkat Patent sebanyak 1-99 pendaftaran patent per tahun, sementara Malaysia negara tetangga berada di kisaran 1000 -9999 patent setiap tahun.

Daftar negara pencetak Hak Paten berdasarkan applikasi didaftarkan

Hanya 99 patent setiap tahun . Kalo data ini benar, artinya boleh dibilang dari 260 juta jiwa setiap tahunnya hanya menghasilkan 99 penemuan baru dalam bidang industri, riset, dan teknologi. GILA!!!

Kenapa bangsa ini begitu rendah dalam hal penemuan? Dalam riset? Dalam hal inovasi? Dalam hal kreatifitas?

Penulis berpendapat penyebabnya dua hal: Minimnya fasilitas yang disediakan dan kedua: mental bangsa Indonesia sendiri yang serba instant.

Kita singgung penyebab pertama, kondisi lembaga Riset di Indonesia sangat memprihatinkan.

Indonesia sejatinya punya Lembaga Riset: PUSPITEK dan BPPT, dan ini pun juga Mahakarya Habibie. Tapi sayang keduanya belum maksimal. Pun juga ada lembaga riset High – Tech lain seperti BATAN dan LAPAN, tapi masih sedikit sekali progress yang dihasilkan. Setiap tahun BPPT ‘hanya’ menghasilkan sekitar 60-70 patent, artinya kalau data di atas itu benar, dari keseluruhan penemuan teknologi, 50% lebih sudah berasal atau atas inisiatif Pemerintah.

Penulis tidak bermaksud merendahkan, betapa Penulis juga tahu bahwa ketika BATAN pertama berdiri tahun 1960, Bung Karno dengan bangga menyatakan bahwa Bangsa Indonesia mulai menguasai Teknologi Nuklir. Tetapi kenyataan membuktikan bahwa 60 tahun setelah ucapan Bung Karno, bangsa ini juga belum bisa membuat PLTN sediri,juga roket peluncur satelit sendiri.

Penyebab kedua gak usah ditanyakan. Karakter bangsa ini menjadi penyebab kenapa Riset dan Teknologi tidak berkembang: Mental konsumtif, Mental serba instant, serba mau untung cepet, kalo perlu gak perlu usaha lama-lama.

Bahasa simpelnya cuman satu : Instant alias Ingin Hasil Cepat. Dibilang Malas mungkin tidak tetapi memiliki karakter tidak mau menunggu lama-lama , inginnya “yang serba pasti” dan cepat dapat hasil.

Kontras sekali dengan mental yang dibutuhkan oleh seorang periset: Riset itu butuh ketekunan, usaha berulang-ulang, menyisihkan modal dan tenaga yang banyak, dan itu pun belum tentu berhasil.

Riset pada hakikatnya adalah ‘Bakar Duit’, Apple dan Samsung harus rela mengeluarkan milyaran dolar dahulu untuk riset produk baru, sebelum akhirnya mendapatkan untung berkali-kali lipat setelah produknya launching. Thomas Alva Edison harus melakukan 9999 percobaan yang gagal sebelum akhirnya berhasil menciptakan bola lampu di percobaan yang ke 10.000.

Akan tetapi bagi bangsa +62, mental ketekunan periset jarang sekali dimiliki. Alhasil, apapun perkembangan teknologi yang dikeluarkan, bangsa ini lebih memilih menjadi konsumen, dan mereka lebih bangga sebagai pemakai ketimbang produsen.

Ketika ada produk hp baru merek pertama dirilis, launching pertamanya langsung diserbu dan habis dalam sekian jam. Padahal jika ditanya balik kenapa mereka mau membeli hp itu, fitur apa saja kelebihannya, boleh jadi mereka Zonk! Yang penting ikut trend, beli dulu, Instragram-an dulu, mikir belakangan.

Mau apa lagi? Budaya riset belum menjadi budaya

Pun akhirnya sifat konsumtif membuat bangsa ini menganggap apapun hal-hal yang berasal dari luar selalu Hebat. Itu sebabnya bangsa ini selalu dijajah. Bangsa Korea gampang sekali ‘menjajah budaya’ anak-anak muda negara ini, apapun yang bisa mereka jual bisa dijual disini asalkan dikemas bagus,

Kita dulu dijajah fisik oleh bangsa Barat, dan setelah merdeka tetap dijajah budaya oleh bangsa Barat, oleh bangsa Jepang, Cina , Korea dan yang terakhir, dijajah oleh Arab.

Inilah yang disebut Inferior Complex, Mental Bangsa Jajahan. Bangsa yang kehilangan jati diri gara-gara Sifat Konsumtif dan Serba Instant.

Bagaimana Industri Dirgantara Indonesia?
PT. DI Alhamdulillah masih ada. Sekalipun pernah mati suri akibat krisis moneter 97, yang berlanjut hingga 12 tahun kemudian. Tetapi PT. DI masih ada dan masih beroperasional, walaupun produknya kebanyakan hanya menerima pesanan outsoure komponen-komponen pesawat.

Tapi bagaimana kiprah PT. DI , apakah ada perkembangan dari pertama kali berdiri? Ya jelas ada. Tapi apakah perkembangannya luar biasa , significant, jika dibandingkan dengan industri -industri dirgantara di seluruh dunia ?

Hmmm… yah penulis selaku orang luar yang hanya pernah magang kerja praktek di sana selama 6 bulan hanya bisa menjawab: “Ya Begitulah!”

Mari kita bandingkan PT. DI dengan perusahaan dirgantara lain. Tidak usah dulu denga Airbus atau Boeing, terlalu jauh. Mari bandngkan dengan yang saingan terdekat: Embraer di Brasil.

Embraer hanya terpaut 7 tahun lebih tua dari PT. DI, tetapi kiprahnya sangat luar biasa. Embraer berdiri tahun 1970, saat kondisi politik Brasil tidak stabil, banyak kudeta, dan ekonomi krisis, singkatnya lebih buruk Indonesia.

Tetapi berkat ketekunan orang Brasil, Embraer kini menjadi salah satu industri pesawat yang disegani di dunia, salah satu produk varian mereka E-190 sudah berani bersaing dengan pesawat jet menengah seperti Boeing 737 sekalipun (sumber).

Akhir kata…

Nama BJ. Habibie berarti PT. DI, IPTN, N250, dan Teknologi Dirgantara Indonesia pada umumnya. Nama itu sudah terlanjur melekat kuat, dan memang pernah menjadi ikon kebanggan di mana bangsa ini bisa membuat pesawat sendiri.

Tapi sayang jaman itu sudah lewat, Bicara kejayaan N250 Gatotkaca terbang mengangkasa dan menjadi kebanggaan anak bangsa tak ubahnya seperti nostalgia masa lalu belaka.

Namun, Kaum intelektual di Indonesia masih ada, generasinya telah berganti, mereka masih ada dan (mudah-mudahan) semakin banyak dari waktu ke waktu.

Jika Anda menjadi seorang intelektual di Indonesia, maka Anda setidaknya harus seberuntung Habibie, Anda harus memiliki beking penguasa yang sejalan dengan pemikiran Anda, jika tidak maka bersiaplah untuk tidak dihargai.

Anda harus memaklumi keadaan bahwa Intelektual bukanlah selera pasar yang baik. Pasar Indonesia yang serba instan tidak menyukai usaha sabar yang penuh ketekunan, atau bakar duit untuk riset yang belum jelas kepastiannya.

Pengecualiannya mungkin untuk industi Teknologi Informasi, Dalam ekonomi Kapitalis ventura seperti sekarang ini, ketimbang menginvestasikan untuk riset, mending uangnya dipakai untuk mendirikan Start Up. Dan kebanyakan Start Up di Indonesia sekarang berbasis Teknologi Informasi. jadi jika Anda seorang intelektual di bidang I.T. seperti programmer, developer, yaah, masih sedikit beruntunglah.

Tapi di luar itu, jika Anda seorang intelektual dan mengharapkan industri Hulu skala besar seperti membuat pesawat , roket, PLTN; jika Anda mengharapkan dukungan dari Pemerintah, maka Anda harus sadar, bahwa Anda berada di negara yang SALAH.

Anda harus mencari cara lain, mencari dukungan dari pihak lain, memulai secara swadaya, atau yang paling pahitnya, pindah menekuni biang lain. Seperti Rocky Gerung, mungkin Anda gagal sebagai cendekiawan, tapi Anda setidaknya masih bisa menjadi selebritas.

Jadi kesimpulannya: ini SALAH SIAPA?

Ya bukan salah siapa-siapa. Kalau mau disalahkan ya… Kaum intelektual itu sendiri! Salah sendiri kenapa hidup di Indonesia. Persetan Nasionalisme, mestinya Anda hidup di Jerman, Amerika dan Jepang jika mau berkembang dan berkarya dengan maksimal, bukan di bangsa yang mental orang-orang nya bersikap ‘serba instant’ dan mau untung cepat seperti bangsa +62 .

Ya Tuhan… Apa bangsa ini ditakdirkan menjadi bangsa Pecundang ??

Rian Hariadi
Rian Hariadi
Seseorang yang suka iseng. Alumni Fisika ITB, seorang Programmer, dan Software Engineer di sebuah pers. I.T.

Opini Cerdas menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berbicara. Kami mengundang Anda menjadi Penulis, SIAPAPUN dan DARI PIHAK MANAPUN boleh membagikan opini dan pemikiran secara cerdas dan bertanggung jawab, TANPA SENSOR! Klik di sini




Suka Artike ini? Tolong di-Like dan Share:
RSS
Follow by Email
Facebook0
Google+0
http://opinicerdas.com/2019/09/r-i-p-bj-habibie-orang-benar-yang-hidup-di-negara-yang-salah
Twitter20
Instagram20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *