Analisa Psikologi dari Debat Capres ke-4 Pemilu 2019

Semalam telah kita saksikan secara langsung debat capres ke-4 Pemilu 2019. 18 hari menjelang hari Pemungutan suara, sepertinya debat ini dimanfaatkan betul-betul bagi kubu kedua capres untuk meraih dukungan, terutama Swing Voters, orang-orang yang masih ‘gamang’ menentukan pilihan tanggal 17 April mendatang.

Namun, ada istilah yang mengatakan: Gambar bercerita sejuta kata, dan kemarin malam, dari visual yang disajikan kita bisa menilai bagaimana kedua capres, baik dari segi subtansial maupun performance.

Karena saya adalah seorang praktisi psikologi, maka ada baiknya saya membahas debat kedua capres semalam. Saya mencoba sebisa mungkin netral, hanya mencoba mengupasnya berdasarkan kaidah keilmuan yang saya miliki.

Peranan Tokoh dan Pembawaan
Ini bukan sinetron. Dari kedua capres semalam tidak ada peran Jahat vs Baik. Keduanya sebenarnya hanya memaparkan visi dan misinya, sebagaimana kita tahu tema debak ke-4 kali ini adalah seputar ideologi, pertahanan keamanan, dan hubungan sosial.

Namun ada faktor lain, yaitu performance. Inilah sisi lain yang patut diperhitungkan. Faktor ini memang di luar ide subtansial visi dan misi, tetapi jangan dianggap remeh.

Soal Kostum
Audience tidak terlalu sulit ‘dikelabui’ dalam soal kostum. Karena ini bisa disiapkan sejak awal oleh kedua kubu, tentu dengan memperhitungkan ‘citra’ yang ingin dibawakan.

Jokowi tetap dengan baju putih, melambangkan kesederhanaan dan merakyat, sedemikian biasanya. Sedangkan Prabowo memakai setelan jas rapi , agak sedikit berbeda dari biasanya.

Biasanya ‘seragam resmi’ Prabowo kemana-mana adalah baju safari coklat atau krem. Jarang sekali Prabowo menampilkan citra dirinya dengan berpakaian rapih.

Mengapa berbeda? Entahlah tapi Tim BPN mungkin punya tujuan tersendiri. Tapi dari sudut pandang psikologi, mode ini sedikit menimbulkan kesan ‘inkonsistensi’ walaupun hanya sedikit.

Kemungkinan besar BPN ingin memberikan kesan Karismatik pada Prabowo , dengan berpakaian seperti orator ulung. Memang inilah gaya yang sering kita lihat pada beberapa pemimpin besar dunia, terutama pemimpin berhaluan fasis seperti Hitler, Mussolini, dan Stallin.

Tapi tentu saja , soal kostum hanya berpengaruh 20%-30% dari keseluruhan penilaian. Penilaian lebih lanjut justru terlihat dari performance (yang ditunjukkan oleh Bahasa Tubuh dan Respon Emosi), dan tentu saja visi dan misi yang disampaikan.

Bahasa Tubuh (Gestur)
Ada sebuah buku terkenal dari Alan & Barbara Pease yaitu “The Devinitive of Body Language” (Anda bisa mengundunya di sini) . Dalam buku ini diterangkan bagaimana gerakan dan gestur tubuh bisa mencerminkan kepribadian seseorang.

Gerakan bahasa tubuh seringkali dilakukan tanpa sadar. Dan tata kamera debat semalam sepertinya tahu betul cara meng-eksplorasi bahasa tubuh kedua capres. Kamera menyorot dominan hanya 2 style: setengah badan dari kepala sampai pinggang, hingga full body.

BACA JUGA:  Kenapa Demam K-Pop 'Gak Pernah Udahan'?

Semua penataan itu memudahkan untuk membaca karakter seseorang, ini jelas ‘makanan’ bagi psikolog dan analis kepribadian.

Sayang saya akui data saya kurang lengkap dikarenakan saya hanya menonton dari televisi. Di televisi hanya disiarkan ketika debat berlangsung, sementara di sesi rehat ditayangkan iklan.

Ini jelas mengurangi data, padahal keadaan dan sikap tubuh kedua Capres di masa rehat, selang jeda di antara sesi juga penting sebagai bahan dasar penilaian. Ini ibarat ‘gerakan tanpa bola’ untuk seorang pemain sepakbola.

Tapi tidak apa, saya akan mencoba memaparkan berdasarkan data yang ada, yaitu saat sesi debat berlangsung.

Mengenai Jokowi, dari bahasa tubuh memang dia terlihat mengesankan ‘sederhana dan apa adanya”. Hal ini terlihat dari bagaimana sikap dia duduk, berdiri, menggerakkan tangan saat berbicara.

Sedangkan Prabowo, dia terlihat (ingin) kharismatik. Dengan berpakaian jas rapi dan lengkap sehingga terlihat gagah, tegas dan wibawa. Ini terlihat bagaimana dia berdiri tegap dan menggerakkan tangan.

Prabowo terlihat kharismatik dan gagah

Siapa Yang Bisa Ber-Empati ?
Empati adalah kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, dan empati menurut teori psikologi kognitif sering dijadikan parameter untuk melihat seberapa tinggi tingkat ‘kecerdasan emosional’ seseorang.

Dari pembacaan bahasa tubuh, Jokowi jelas terlihat lebih berempati, hal ini ditunjukkan saat lawannya berbicara, dia memilih untuk menyimak (dia tunjukkan demikan). Badannya condong miring mengarah lawan bicara. Ekspresinya mendengarkan baik-baik, tidak menunjukkan ada ekspresi takut, atau meremehkan pembicaraan lawannya.

Saat lawannya berbicara, Jokowi cenderung mengikuti dan menghargai pembicaraan orang lain.

Sebaliknya Prabowo, empati tidak dia tunjukkan. Saat lawannya berbicara. Prabowo memilih jaim, kaku, dengan mencoba tetap mempertahankan ‘kharisma’-nya. Hal ini ditunjukkan ketika lawannya berbicara tubuhnya tetap lurus ke mengarah ke depan dan tetap menjaga sikap. Dia menjauhi sikap atau ekspresi yang terlihat menurunkan wibawanya.

Prabowo tetap ‘jaim’ dan mempertahankan karismatiknya, saat lawannya berbicara.

Respon Emosi

Emosi diartikan sebagai efek berupa impuls akibat rangsangan yang berasal dari dalam maupun dari luar. Berasal dari kata emotion dari bahasa Perancis yang berarti : “bergerak keluar” dan berpengaruh terhadap kondisi jiwa seseorang.

Adapun respon emosi bisa ditunjukan secara fisiologis atau dengan ungkapan verbal dan non verbal. Ekspresi non verbal mencakup ekspresi wajah, gerakan fisik, pengucapan, isyarat tubuh , dan tindakan-tindakan emosional.

Kaitannya dengan kedua capres dalam debat semalam. Masing-masing menampilkan emosi tersendiri. Respon emosi ini seringkali dilakukan tanpa sadar. Dikarenakan keduanya sudah mencapai usia kematangan emosi (seharusnya), maka sulitlah untuk merekayasa tipe-tipe emosi yang dimiliki.

Apa yang mereka tunjukkan saat itu , itulah tipe emosi yang sudah terbentuk jadi kepribadian puluhan tahun.

Jokowi cenderung Berhati-hati dan Prabowo Tidak mau Kalah.
Dari Pertanyaan-pertanyaan debat, kita bisa menilai bagaimana respon emosi dari kedua capres.

BACA JUGA:  Sandiaga VS KH. Ma'ruf - Pandangan Ustad Al Qahwah Yang Tidak Biasa

Dari analisa awal terdiagnosa jika Jokowi cenderung berhati-hati, namun berusaha berpikir cepat, hal ini terlihat ketika menjawab pertanyaan yang diajukan, Jokowi cenderung berdiam diri dahulu selama 3-5 detik sebelum melontarkan kata pertama.

Tentu saja dalam selang 3-5 detik itu dia berpikir cepat.

Jokowi juga cenderung berhati-hati untuk ‘tidak mengatakan hal-hal yang BELUM dia pertimbangkan’. Ini terlihat dari manakala dia sudah selesai memberikan statement namun waktu yang diberikan masih ada, Jokowi memilih untuk menyudahi daripada menambahkan.

Entah ini proses latihan atau tidak, tapi ini justru menimbulkan kesan baik, karena menunjukkan ketegasan. Ketimbang dia mengisi waktu yang tersisa dengan mengulang-ulang lagi statement nya , atau malah memberikan kata-kata yang belum dia pikirkan, atau “ah..uh..ah..uh..” Hasilnya akan jauh lebih buruk.

Sebaliknya Prabowo, dia cenderung ‘tidak mau kalah’, Tidak pernah sekalipun Prabowo menyisakan waktu tersisa. Hal ini menunjukkan sekali betapa Ego-Sentris-nya seorang Prabowo, mental tidak mau kalah.

Prabowo tidak seperti Jokowi yang memilih diam dahulu sambil berpikir, Prabowo melakukan berpikir SAMBIL MENGULANGI kembali pertanyaan moderator. Ketika ditanya ‘Bagaimana mendidik Pancasila tanpa indoktrinasi’, saat menjawab Pak Prabowo mengulangi kembali pertanyaannya (sambil berpikir): ‘Ya, jadi bagaimana mendidik Pancasila tanpa indoktrinasi adalah…’

Bahkan jika jawaban pertanyaan dia sudah habis tapi waktu masih tersisa, maka alih-alih berhenti dia malah melakukan penegasan dengan kalimat-kalimat yang sebetulnya tidak perlu dan secara subtansial sebenarnya sudah diwakilkan oleh kalimat sebelumnya.

Penegasan ini tentu saja disertai tensi emosi yang meninggi. Kata-kata macam “Saya lebih baik memakai Teknologi Lama asalkan kekayaan negara ini tidak keluar”, atau “Negara kita sedang terancam kalian kok malah tertawa. Lucu ya?!” Kalimat -kalimat semacam ini muncul di bagian ini.

Tusukan dan Tangkisan
Tentu wajar dalam debat kedua belah pihak saling ‘menusuk’ satu sama lain. Dan ketika ditusuk, pihak lawannya juga harus bisa ‘menangkis’.

Keasyikan menonton debat memang terlihat dari ‘tusukan dan tangkisan’ ini, dan bagaimana kepiawaian masing-masing pihak.

Tusukan pertama dilakukan Prabowo ketika bertanya kenapa pihaknya sering dituduh sebagai ‘Pendukung ideologi Anti-Pancasila’ . Tapi alih-alih menjawab, Jokowi dengan piawai menge-les pukulan itu dengan mengatakan ‘saya sendiri juga dituduh, tapi diam saja’

Hal yang sebaliknya tidak terjadi. Ketika Jokowi menusuk Prabowo dengan mengatakan ‘Bapak Prabowo ini tidak percaya sama TNI kita’ , tusukan ini berhasil memancing emosi Prabowo dan terbawa terus sampai akhir debat.

Alih-alih menangkis tusukan Jokowi, EGO Prabowo justru memilih untuk menghantam frontal dengan kata-kata ‘SAYA INI TENTARA, SUDAH PULUHAN TAHUN!’

BACA JUGA:  Strategi Hukum: Waspadai Margarito Kamis & BW yang Bisa Batal Membela 02 ke MK, Ini Penjelasan Hukumnya!

Prabowo pun mencoba ‘memancing’ dengan membawa-bawa ‘kejelekan’ anak buah Jokowi, para diplomat, dan anak buah yang ‘ABS’. Tapi tidak berhasil, Jokowi sepertinya tidak terpancing.

Kesimpulan Akhir : Jokowi Cerdik dan Gesit, Prabowo Agresif
Akhirnya sekarang kita bisa menilai: Jika dilihat dari bahasa tubuh dan respon emosi kedua Capres , dari keseluruhan sesi acara, seperti yang Anda bisa tebak: dari Gaya Bahasa tubuh dan emosi Jokowi memang terlihat lebih tenang dibandingkan Prabowo. Prabowo cenderung Emosional, Agresif, berapi-api dan terlihat EGO-sentris.

Saya belum bisa memastikan apakah ini memang kepribadian atau hasil bentukan pencitraan melalui latihan dari Tim Kampanye. Tapi bahasa tubuh umumnya sulit ditipu karena semua gerakan dibuat secara alam bawah sadar.

Jokowi menunjukkan sifat kepribadian yang cerdik mungkin licik kalau bahasa negatifnya, tapi memiliki pengendalian emosi yang hebat. Bagaimanapun depan boleh dianggap sebagai simulasi ‘keadaan kritis’ dan Jokowi berhasil memainkan ini dengan baik. Dengan hanya memanfaatkan waktu beberapa detik saja untuk memikirkan jawaban yang tepat atau menangkis ‘tusukan’, ini semua menunjukkan kecerdasan seorang Jokowi.

Tapi untuk Prabowo jelas terlihat impulsif, agresif, dan kurangnya pengendalian emosi.

Dari segi subtansi Prabowo banyak hanya beretorika.Tema kajian debat semalam adalah tentang Pertahanan Keamanan salah satunya. Tapi di sini terlihat agresifitas Prabowo sebagai mantan tentara, dengan mengatakan berkali-kali tentang ‘Lemahnya Negera kita’ karena tidak ada uang, korupsi dan lain-lain.

Apa yang dibicarakan Prabowo hanya seputar bagaimana memperkuat negara ini secara fisik militer, seperti membeli senjata, membeli rudal, dan nafsu-nafsu peralatan berperang ala diktator megalomaniac. Seolah-olah mengesankan bahwa Prabowo ini seorang yang ‘doyan perang’.

Para ahli psikologi telah lama meneliti sifat Agresifitas sebagai suatu respon rangsangan emosi. Dimulai dengan Sigmun Freud , ahli psikoanalisa, yang berpendapat bahwa agresifitas adalah salah satu respon emosi tubuh saat merasakan adanya ketidak nyamanan.

Tapi bagaimanapun masihlah terlalu dini apakah sifat agresifitas Prabowo ini sudah merupakan karakter, kelainan jiwa atau hanya sekedar emosi. Secara kaidah profesional saya belum bisa memvonis, diperlukan anamnesa lebih lanjut.

Mengenai komentar beberapa politikus bahwa sifat emosional Prabowo dapat mengurangi pengaruhnya secara elektoral, saya tidak mau berkomentar lebih banyak. Saya hanya menilai berdasarkan keilmuan saya.

Demikian analisa psikologi saya. Mungkin Anda bisa memiliki penilaian yang lebih baik, saya persilahkan. Dan silahkan mengamati detik demi detik video sesi debat kemarin di sini.

Salam, Fransiskus Allan

Allan Fransiskus
Allan Fransiskus Mpsi
Seorang praktisi Psikologi

Opini Cerdas menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berbicara. Kami mengundang Anda menjadi Penulis, SIAPAPUN dan DARI PIHAK MANAPUN boleh membagikan opini dan pemikiran secara cerdas dan bertanggung jawab, TANPA SENSOR! Klik di sini




Suka Artike ini? Tolong di-Like dan Share:
RSS
Follow by Email
Facebook0
Google+0
https://opinicerdas.com/2019/03/analisa-psikologi-debat-capres-ke-4
Twitter20
Instagram20

14 thoughts on “Analisa Psikologi dari Debat Capres ke-4 Pemilu 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *