Apakah Koruptor itu Sakit Jiwa?

Jika kemarin saya menulis artikel tentang Penembakan Massal dan masalah kejiwaan si Pelaku, maka kali ini kita akan membahas masalah kejiwaan yang ada di dalam negeri sendiri, yaitu korupsi.

Kenapa korupsi? Ya , sebab korupsi banyak di Indonesia. Kemarin kita baru saja diributkan oleh tertangkapnya Romy***** alias Bung Romy oleh KPK, yang merupakan salah satu balad Tim Sukses Jokowi.

Bung Romy merupakah salah satu ketua partai besar di Indonesia. Orang yang sudah terbiasa main politik, sebenarnya aneh rasanya dia bisa ‘semudah itu’ tertangkap tangan KPK. Entah memang dia korup, atau memang dia bodoh (lagi apes dijebak), atau keduanya? Hanya Tuhan dan dia sendiri yang tahu.

Tapi baiklah, kasus korupsi di Indonesia bukan hanya Bung Romy. Masih banyak lagi dan umumnya. Dan itu dilakukan secara berjamaah.

Dan terkadang saya bertanya-tanya, jika kita telaah lebih dalam, apakah koruptor itu memiliki kondisi jiwa yang berbeda? Ada kognitif anomali sehingga ada kecenderungan mereka ingin melakukan terus-dan terus dan jumlah uang yang dikorupsi makin banyak?

KPK sudah banyak melakukan OTT, sudah banyak koruptor dipenjara. Tapi kenapa jumlahnya bukannya menurun malah meningkat?

Dari sumber berita Antara, Pakar penyakit dalam Divisi Gastroenterologi Fakultas Kedokteran UI Ari Fahrial Syam mengatakan, koruptor dapat dikategorikan sebagai penderita sakit jiwa sehingga tidak layak untuk dipilih sebagai pemimpin atau wakil rakyat.

“Harus kita ingat para koruptor tersebut orang yang sedang sakit jiwa dan tidak masuk definisi sehat menurut WHO oleh karena itu tidak layak menjadi pemimpin dan tidak layak untuk dipilih kembali menjadi pemimpin,” kata Ari Fahrial Syam dalam keterangan tertulis menyambut Hari Kesehatan Jiwa Dunia setiap tanggal 10 Oktober 2017 di Jakarta, Kamis (10/10).

Korupsi Gangguan Jiwa
Sekarang mari kita anamnesa kasus korupsi itu sendiri menurut ilmu psikologi. Apakah korupsi ini merupakan salah satu gangguan jiwa?

Ada satu cabang psikologi yang disebut Psikologi Abnormal. Untuk memahami perilaku abnormal, psikolog menggunakan acuan DSM (diagnostic and statistical manual of mental disorder).

BACA JUGA:  Kenapa keadaan Darurat Sipil tdk disukai pihak Oposisi dlm menanggulangi Covid-19 dan kenapa mereka sll menginginkan lockdown?

DSM adalah sistem klasifikasi gangguan-gangguan mental yang paling luas diterima. DSM menggunakan kriteria diagnostic spesifik untuk mengelompokkan pola-pola perilaku abnormal yang mempunyai ciri-ciri klinis yang sama dan suatu sistem evaluasi yang multiaksiel.

Kenapa Orang Korupsi?
Pertanyaan bagus. Jawaban pastinya ya.. harus tanya orangnya. Tapi pasti akan sulit sekali mendapatkan jawaban yang sejujur-jujurnya.

Teknisnya mendiagnosa abnormlitas seorang koruptor bermacam-macam. Tapi yang jelas sulit menyimpulkan dari anamnesa. Tak mungkin seorang (tersangka) koruptor yang ditangkap diwawancara, untuk mengetahui dia sakit jiwa atau tidak.

Kalau memang begitu caranya dia bisa saja berbohong, atau malah sebaliknya, sengaja berlindung di balik ‘ke-sakitjiwaan-nya’ agar bebas.

Tak Merasa Bersalah
Satu-satunya tilikan adalah dari perilaku khas koruptor yaitu: Tanpa merasa Bersalah.

Memang bangsa kita ini terkenal : inconsiderate, alias tidak peduli dengan orang lain. Inconsiderate adalah sikap yang membuat orang parkir sembarangan, atau membuang sampah sembarangan.

Umumnya, semakin maju suatu negara, tingkat kepedulian mereka terhadap lingkungan makin tinggi. Orang di negara maju cenderung tidak mau buang sampah sembarangan atau menyelak antrian. Simpelnya, makin beradab.

Lalu bagaimana dengan koruptor? mereka juga inconsiderate yang akut. Mereka tidak peduli bahwa tindakan mereka merugikan orang lain. Merugikan keuangan negara. Tapi mereka jalan terus. Jumlah uang yang dikorupsi bukan makin turun tapi makin meningkat.

Pendidikan untuk Korupsi
Korupsi di Indonesia banyak yang dilakukan berjamaah. Tujuannya jelas: supaya semuanya saling menutup mulut rapat-rapat. Ini terjadi jika kita memasuki lingkungan internal mereka.

Jadi yang tadinya tidak ada niat (atau tidak ada akses) buat korupsi pun akhirnya melakukan juga. Kalau sudah begini maka bisa dibilang bahwa korupsi merupakan output dari proses didikan, atau dalam kata lain: Korupsi memang diajarkan di lingkungan mereka. Tehnik dan Strateginya saling diajarkan.

Sekarang jadi masalah abnormalitasnya bukan lagi klinis, tapi menyangkut psikologi pendidikan. Ada yang salah dalam sistem pendidikan komunitas mereka , gagalnya pendidikan Anti korupsi sama saja dengan mendidik agar korupsi.

BACA JUGA:  Contoh Artikel Dalam Kategori Hukum dan Kriminalitas

Ini jelas problematik. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah sistemnya dirombak. Atau kasarnya banyak orang yang bilang: Putus satu Generasi. Atau bubarkan seluruhnya, lalu bikin yang baru.

Paranoid
Biarpun mereka bersikap tidak peduli atas apa yang mereka lakukan dan mereka saling mendidik , bertukar ilmu dan strategi untuk korupsi. Tetapi bukan berarti mereka tidak takut. Ya koruptor juga takut, tapi bukan takut Tuhan melainkan takut polisi dan KPK, takut ketahuan.

Dan kondisi paranoid ini menjadi akut untuk internal mereka sendiri. Mereka akan mencari cara bagaimana supaya tidak ketahuan. Mulai dari yang paling tinggi menggunakan konsultan Money Laundering, menyembunyikan harta di negara Off Shore, hingga yang paling rendah: menyimpan uang hasil korupsi dalam bentuk uang CASH!

Itu sebabnya jika kita lihat berita koruptor ditangkap dengan bukti lembaran uang cash banyak sekali. Ya sebab jika disimpan dalam rekening Bank pasti ketahuan. Jadi yang paling aman ya dalam bentuk Cash.

Jadi kalau Anda memang belajar jadi koruptor, ingat saja: Anda juga akan menjadi Paranoid suatu hari nanti.

Bermental Munafik
Selain Pendidikan korupsi dan Pranoid, seorang koruptor juga memiliki kecenderungan bermental munafik (mungkin ini sebabnya banyak koruptor juga politikus).

Seorang koruptor untuk menutupi kejahatannya boleh jadi dia akan melakukan kebaikan. Uang hasil korupsi akan dia pakai untuk membangun mesjid atau sumbangan ke panti asuhan dan lain-lain.

Yang paling jago adalah mereka membuat yayasan sendiri. yayasan amal, tapi ternyata uang sumbangan yayasan itu dihasilkan dari kegiatan korupsinya.

Mungkin dia juga akan berpenampilan agamis, tutur kata yang lembut, sopan, dan sebagainya. Sehingga orang tidak menyangka bahwa dia seorang koruptor.

Memang, penjahat yang level tinggi akan terlihat seperti orang baik.

Nasihat Terakhir : NO LOYALTY AMONG CRIMINALS
Mudah-mudahan saya harap koruptor juga membaca pesan ini: Tidak ada kesetiakawanan dalam Kejahatan, apalagi dalam Korupsi. Yang terjadi adalah Saling Mengorbankan satu sama lain. Selamatkan diri masing-masing

BACA JUGA:  Memakai Gopay / Ovo tapi BEBAS (MINIM) Riba

Bukan hanya korupsi, tapi juga kejahatan lain. Misalnya, peredaran Narkoba. Jika salah satu pengedar yang tertangkap, apakah pengedar temannya atau bandar ada yang mau menolong dia ?

Jangan harap! Yang ada, Anda mungkin dibunuh, untuk menghilangkan jejak.

Demikian juga korupsi. Ketika melakukan semuanya kebagian, it’s OK. Tapi bagaimana jika ada salah satu yang tertangkap ? Apakah kawan-kawannya yang ikut menikmati akan membantunya?

Jangan Harap!

Kemungkinan besar yang lain pasti akan berusaha menghilangkan jejak, karena ibarat rantai, kalau satu mata rantainya dipegang, maka ujung lainnya juga bisa didapat, terkecuali rantai itu diputus di tengah.

Tapi orang yang tertangkap tentu takkan tinggal diam, pasti yang tertangkap itu akan ‘bernyanyi’, supaya yang lain juga tertangkap.
Yang namanya kejahatan itu ilmu iblis, dan sifat iblis adalah mencari orang lain untuk menemani dia ke neraka. Sudah pasti orang yang tertangkap korupsi takkan sudi masuk neraka sendirian.

Akibatnya bisa ditebak: Semua saling tikam menikam, saling tusuk, saling melemparkan kesalahan, saling memfitnah, sambil selamatkan diri masing-masing.

Yang semula kawan di saat korupsi berjamaah, langsung buyar. Koruptor berteman di saat senang, di saat sama-sama menikmnati, tapi ketika salah satu kena, maka tidak ada lagi yang namanya teman.

Semua saling berkhianat dan menyelamatkan diri masing-masing. Perhatikan saja setiap kasus korupsi besar di Indonesia: Hambalang, e-KTP, dan lain-lain. Pada akhirnya bukankah ini yang terjadi?

Jadi kalau Anda memang ingin menjadi korupsi. Maka sekedar saran dari saya: Anda tidak hanya harus siap dengan mental maling. Anda juga harus memiliki mental pengkhianat, sebab suatu hari pada saat Anda korupsi berjamaah bisa jadi ada yang ketangkap.

Dan itulah saatnya Anda memilih: Menjadi Pengkhianat atau Dikhianati.

Heran, manusia tidak pernah mau belajar.

Allan Fransiskus

Allan Fransiskus

Seorang praktisi Psikologi

16 thoughts on “Apakah Koruptor itu Sakit Jiwa?

  1. Pingback: buy naltrexone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *