Coding Mum, Ketika Emak-emak menjadi Programmer

OK, salam kenal.. jadi ini tulisan pertama saya di blog Opini Cerdas ini, mudah2an bisa menjadi ladang inspirasi.

Saya berprofesi sebagai programmer, jadi kalo nulis di sini ya kayaknya gak akan jauh-jauh dari seputar dunia I.T. dan pemrograman. Btw, saya memilih untuk menyebutkan nama saya sebagai ‘ahlicoding.com’ saja. Karena memang saya pemilik blog itu, sekalian promosi heheheh .

Kapan-kapan buat yang mau belajar Coding atau pemrograman komputer mampir yah ke www.ahlicoding.com .

Kebetulan kali ini saya akan mengangkat satu kisah mengenai pelatihan pemrograman kepada ibu-ibu rumah tangga.

Ada satu hal yg menarik ketika saya kemarin berkunjung ke BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) , Badan Pemerintah yang bertugas mengangkat perekonomian Indonesia dalam Hal Kreatif ini telah mengadakan pelatihan bahasa pemrograman untuk ibu-ibu, nama pelatihan itu adalah ‘Coding Mum’.

Pelatihan ini dimaksudkan untuk melatih ibu rumah tangga agar bisa berusaha secara mandiri dengan menjadi Ahli Coding alias Programmer. Hal ini juga untuk menjawab tantangan Indonesia kekurangan Tenaga Ahli meng-Coding bahasa Pemrograman alias Programmer.

Sebagaimana saya kutip dari situs resmi BEKRAF di sini , Coding Mum diadakan juga bukan hanya ibu rumah tangga yang sehat jasmani tapi juga yang menyandang disabilitas.

Kelas perdana Coding Mum Disabilitas akan berlangsung tanggal 24 Februari – 3 Maret 2018 di KOLLA co-working di lantai 2 Jalan KH Agus Salim No.32B, Sabang – Menteng Jakarta. Sebelumnya, program ini telah disosialisasikan pada tanggal 2 Februari 2018. yang bertujuan untuk mengumumkan rencana kegiatan serta merekrut calon mentor.

Pelatihan Coding Mum ini diselenggarakan di tiga kota: Jakarta, Bandung, Surabaya. Dan rencananya bahkan merambah ke luar negeri.

Komentar saya?

Pertama ini patut diapresiasi.

Menjadi programmer adalah profesi yang.. Well, menurut saya fleksibel. Karena berurusan dengan coding, tentunya pekerjaan saya selalu terikat dengan laptop dan juga internet.

Akibatnya, ruang kerja saya fleksibel. Saya bisa kerja di manapun selama itu ada koneksi internet. Kantor saya adalah kafe, perpustakaan, rumah sakit, mall, bandara, ruang kantor, dan bahkan kamar tidur.

Yah… bagi seorang programmer selama disitu ada laptop dan internet, di situlah dia bekerja. Placeless dan Timeless menurut saya. Seorang programmer bisa berkerja baik professional di kantor maupun freelance, buka jasa programmer sendiri lalu menawarkan jasanya di situs-situs penawaran kerja lepas seperti freelancer.com atau artdevjobs.com.

Kedua, ini semacam masukan, atau lebih tepatnya kritik mungkin ya. Di situ dikatakan bahwa BEKRAF mengadakan pelatihan yang perdana kelasnya dari 24 Februari 2018 hingga 3 Maret 2018, kira-kira dua minggu kurang.

WAIT!! Dua minggu ???

GOSH!! Dua minggu untuk menjadi Ahli Pemrograman?

YA TUHAN!! Andai mereka tahu bagaimana rasanya , betapa pahitnya dan BERAPA LAMA untuk menjadi seorang programmer… Two weeks ? That’s Nothing!!  

Saya memulai belajar bahasa pemrogramman semenjak lulus kuliah. Tahun 2014, lima tahun yang lalu. Agak terlambat memang. Tapi saya terus mengejar ilmu saya, dan sampai detik ini pun saya TIDAK PERNAH MERASA CUKUP !!!

TIDAK PERNAH!!!

Saya sama sekali tidak punya basic I.T. kuliah saya adalah jurusan Fisika. IPA murni. Yang saya miliki cuman logika sains saja. Tapi berbekal itu saya memulai belajar mengkoding.

Saya mulai dari belajar PHP, HTML, dan sedikit-sedikit CSS. Saya bolak-balik buka website w3schools.com , bolak-balik melihat sesi tanya jawab di Stackoverflow. Dan gak lupa mendownload ebook-ebook bajakan.

Entah berapa kali saya begadang, berat badan sempat turun 10 kilo, dua kali saya kena tipus. Semua karena belajar dan latihan pemrograman. Saya sering bangun jam 3 pagi hanya untuk belajar coding (otak manusia berada dalam kondisi paling maksimal untuk fokus jam 3 – 6 pagi)

Singkatnya adalah: Menjadi programmer tidak semudah dan secepat yang dibayangkan. Itu butuh ketekunan, kerja keras, keuletan. Apalagi kalo sudah menghadapi masalah ERROR dan stuck, program kita gak jalan. Pusingnya setengah mati.

Apakah saya menulis ini bermaksud mengecilkan usaha Emak-emak Coding Mum, dan menganggap mereka sia-sia belajar? Tentu saja tidak.

Tapi masukan dari saya adalah:
Pertama: Tolong diniatkan betul, jika sudah memutuskan menjadi seorang Programmer , itu berarti harus sudah siap untuk tekun menimba ilmu, harus banyak mencoba, latihan Trial and Error.

Jangan putus asa ketika kita Stuck dan Error. Karena pasti ada jalannya. Kita tanya Mbah Google, kalo di Mbah Google gak ada tanya di stackoverflow, atau kalau tidak bisa juga, bisa disimpan dahulu, tulis dahulu problemnya di catatan. Lalu nanti kalau bertemu programmer yang jauh lebih ahli bisa ditanyakan.

Tapi biarpun Stuck, teruslah mencoba… dan manakala akhirnya Stuck itu terselesaikan dan program berjalan, rasanya puaas sekali, secara kimiawi otak kita akan mengeluarkan hormon kenikmatan yang rasanya.. Wah..LUAR BIASA!

Memang benar: sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Demikian seterusnya. Ini adalah proses pembelajaran yang tiada henti. Jelas dua minggu takkan cukup. Anda belum pernah menjadi Programmer jika belum mengalami stuck.

Kedua: Tentukan bidang pilihan spesifik sesuai bakat. Programmer itu ada dua jenis: Front-End dan Back-End.

Front End artinya lebih berfokus pada tampilan luar, yang tampak di layar, jadi ini hubungannya dengan desain dan estetika. Desainer web lebih masuk ke sini.

Sedangkan Back-End lebih berfokus pada sistem, mesin, Engine, yaitu algoritma yang memungkinkan program itu bekerja.

Jika Anda memiliki logika yang kuat, maka tekunilah Back-End. Pelajari bahasa-bahasa pemrograman Back-End seperti PHP, Python, Java, C++, ASP.

Sedangkan jika jiwa Anda lebih ke ‘seni’, maka tak ada salahnya mengasah bakat Anda di bidang Front-End programmer. Pelajari bahasa pemrogramman Front-End untuk mengedit-edit tampilan seperti HTML dan CSS, dan untuk menambahkan efek pelajari juga Javascript dan jQuery.

Pelajari juga Tools-Tools desain dari Adobe seperti Adobe Photoshop, Adobe Fireworks, dan yang terakhir yang khusus untuk membuat web: Adobe Muse.

Dan terakhir, untuk melihat hasil kerja Front End programmer seperti apa, coba pelajari website yang menjual template desain-desain web seperti w3layouts.com .

Kita mengenal istilah otak kiri dan otak kanan.

Menjadi seorang programmer Back-End berarti otak kirinya lebih bagus karena Back-End membutuhkan kemampuan logika yang kuat, kecerdasan menganalisa dan men-develop sistem. Sedangkan untuk Front-End karena berhubungan dengan desain dan tampilan, maka sudah pasti lebih dominan otak kanan.

Bagaimana menjadi keduanya alias Full Stack ? Itu sulit sekali. Memang bisa tapi kemungkinannya kecil. Sebagian besar manusia hanya bisa fokus di salah satu kekuatan: Logika atau Seni, otak kiri atau otak kanan. Jarang ada manusia yang kedua otaknya berembang. Pasti salah satu lebih dominan.

Akhirukalam. Saya tidak bermaksud mengecilkan hati para Emak-Emak Coding Mum yang mau belajar pemrograman. Itu bagus. Tapi sebagai bahan masukkan, mohon pertimbangan saran saya di atas.

Pelatihan dua minggu mungkin bagus sebagai modal untuk menginspirasi, tapi sebagaimana saya bilang: ITU TIDAK CUKUP. Keluar dari situ Anda sendiri yang harus tekun belajar.

Btw buat programmer pemula: dua halaman di atas: w3schools dan stackoverflow, tolong dicatat dan dipergunakan baik-baik!! Dua halaman di atas adalah referensi yang sangat Powerfull buat belajar Pemrograman. Boleh dibilang keduanya adalah ‘Kitab Suci’ para Programmer

Untuk lebih jauh mengenai syarat-syarat yang dibutuhkan menjadi Programmer, silahkan mampir ke web saya dengan meng-klik link ini.

ahlicoding.com
ahlicoding.com 
rumah saya di 127.0.0.1

Opini Cerdas menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berbicara. Kami mengundang Anda menjadi Penulis, SIAPAPUN dan DARI PIHAK MANAPUN boleh membagikan opini dan pemikiran secara cerdas dan bertanggung jawab, TANPA SENSOR! Klik di sini




Suka Artike ini? Tolong di-Like dan Share:
RSS
Follow by Email
Facebook0
Google+0
https://opinicerdas.com/2019/03/coding-mum-ketika-emak-emak-menjadi-programmer
Twitter20
Instagram20

7 thoughts on “Coding Mum, Ketika Emak-emak menjadi Programmer

  1. Pingback: cheap albuterol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *