Melihat Penembakan Massal New Zealand dari Perspektif Psikologi

Sungguh miris menyaksikan kejadian penembakan jemaat umat Islam
saat sholat Jumat di Christcruch, New Zealand beberapa waktu lalu. Puluhan orang tewas dalam waktu beberapa menit, ditembaki oleh seseorang saja dengan menggunakan senjata otomatis.

Sebagian besar orang mungkin akan melihat ini dari dari sentimen agama, terorisme, rasial, dan sebagainya. Yang paling banyak disinggung orang adalah sentimen agama Islam, dan kaitannya dengan ‘Benturan Peradaban’ Islam dengan Kristen, Islamophobia, Kebencian terhadap imigran muslim yang berdiaspora, dll.

Hal ini wajar karena target pembunuhan sendiri adalah jemaat Sholat Jumat di dua mesjid dan si Pelaku sendiri, Brenton Tarrant memang nyata-nyata dan eksplisit mengungkapkan motif nya yang penuh kebencian terhadap Umat Islam dan imigran (yang juga sebagian besar umat Islam).

Brenton Tarrant yang mengagung-agungkan paham Supremasi Ras Kulit Putih ala Nazi, menganggap imigran muslim sebagai penjajah dan peneror negara yang harus dibasmi.

Sebagai praktisi psikologi, ijinkan saya untuk memberikan pandangan mengenai fenomena kenapa Kejadian Penembakan Massal (Gun Mass Shooting) sering terjadi. Mari kita coba kesampingkan dulu faktor agama, atau faktor rasial supremasi kulit putih. Mari kita lihat mengapa akhir-akhir ini sering terjadi.

Bukan Hanya Faktor Agama
Statistik membuktikan, penembakan massal terjadi tanpa adanya faktor primordial seperti sentimen agama, ras, dsb. Yang terjadi justru faktor di luar itu. Si Pelaku yang melakukan penembakan kebanyakan bukan dari latar belakang ‘aliran fundamentalis’ yang kuat, tetapi warga -biasa-biasa saja;, beberapa di antara mereka bahkan masih pelajar.

Data di bawah saya ambil dari CNN. Dari tempat-tempat di mana terjadinya kejadian Penembakan Massal, tempat agama hanya mengambil porsi kecil (6%), yang paling banyak justru tempat kerja (Business Place), dan sekolah.

Porsi tempat kejadian Penembakan Massal – CNN

Dan perhatikan lagi data di bawah yang saya ambil dari CNN. Data di bawah saya ambil dari CNN, saya memperlihatkan data penembakan massal di AS yang paling banyak memakan korban dari tahun 1949, dan itu ada di Las Vegas pada 10 Oktober 2017:

Kejadian Penembakan Massal yang paling memakan korban di AS – CNN

Kejadian di Las Vegas kemungkinan besar bukan disebabkan oleh sentiment agama atau ras tapi karena depresi, mengingat pelakunya,
Stephen Paddock adalah orang kulit putih, native American dan beragama Kristen. (kepastiannya aslinya sulit didapat karena Paddock langsung bunuh diri)

BACA JUGA:  Contoh Artikel Dalam Kategori Sains, Pendidikan dan Teknologi

Dari rekam jejak diketahui bahwa latar belakang kehidupan Stephen Padock memang ‘tidak terlalu bahagia’ . Dia adalah anak dari Benjamin Paddock, seorang penjahat perampok bank yang dipenjara sejak Stephen kecil. Stephen 2 kali cerai, tanpa anak dan tidak memiliki masa tua yang indah walaupun menurut beberapa orang hartanya senilai 2 juta dollar.

Singkatnya, Stephen Paddock melakukan penembakan lebih dikarenakan masalah jiwa, depresi akut yang kemudian dia lampiaskan, dengan cara menembaki orang-orang.

Hal yang menarik lainnya adalah kejadian Penembakan Florida atau Stoneman Douglas High School shooting, yang bahkan pelakunya adalah seorang siswa SMU berusia 19 tahun yang bernama Nicholas Cruz. Kejadian penembakan Florida memakan korban terbanyak dalam kasus penembakan di Sekolah di AS, yang sering terjadi.

Bagaimana dengan Hukum Larangan Memiliki Senjata?
Mungkin beberapa di antara Anda berkata, jika banyak sekali kasus penembakan, kenapa AS tidak melarang saja kepemilikan senjata api? Jawabannya: Tidak bisa, kenapa? Karena itu melanggar Konstitusi AS.

Amandemen kedua Bill of Rights tahun 1791 menyatakan: “Milisi yang diatur dengan baik, yang diperlukan untuk keamanan sebuah Negara bebas, hak rakyat untuk memiliki dan membawa senjata, tidak boleh dilanggar ( A well-regulated Militia, being necessary to the security of a free State, the right of the people to keep and bear Arms, shall not be infringed). ”

Dengan kata lain kecuali AS mau (sekali lagi) mengubah konstitusinya–yang dimana membutuhkan political cost yang tidak sedikit, maka tertutup sudah diskusi pelarangan kepemilikan senjata untuk mencegah Penembakan Massal. Sekarang tampaknya kita harus beralih pada topik lain untuk mencegah terjadinya Penembakan Massal.

Kita mulai dengan mengkaji dari sisi psikologi.

Sebuah Endemik?
Lalu sekarang muncul pertanyaan: Apakah ini sebuah Endemik? Mengapa kebanyakan Penembakan mematikan terjadi setelah 2010-an? Di jaman sudah ada Youtube dan media sosial lain? Apakah semua media online dan media sosial ini ikut berkontribusi sehingga kejadian penembakan menjadi ‘menular’ di mana-mana?

Pertanyaan ini menyeruak, baik para ahli psikologi klinis maupun psikologi massa lama berdebat soal ini: “Apakah justru media sosial yang berperan serta menularkan kejadian penembakan?” ; atau justru “Tidak ada korelasinya?”

Beberapa ahli psikologi seperti Frank Farley justru lebih condong pada pendapat kedua. Seperti dilansir dari situs apa.org , Frank membeberkan bahwa masyarakat kita hanya dihantui oleh ketakutan, sebab menurut dia secara statistik setelah kejadian WTC, jumlah korban yang mati karena penembakan massal angkanya masih terlalu kecil dibandingkan dengan kriminal lainnya.

BACA JUGA:  Memakai Gopay / Ovo tapi BEBAS (MINIM) Riba

Tapi bukti belakangan pada kasus Christcruch di New Zealand tampaknya membantah pendapat Frank, dalam kejadian penembakan di Chriscruch, si media sosial justru mempengaruhi, atau setidaknya membantu si Pelaku: Brenton Tarrant untuk melakukan aksinya. Video Live saat beraksi dan postingan-postingan sosial media akunnya memperkuat tesis itu.

Penembak adalah Orang yang ‘Terkucilkan’
Sejatinya, orang menjadi Penembak Massal karena mencoba ‘memberontak’ dari tekanan yang dia alami, terutama sekali tekanan sosial. Pemberontakan disalurkan melalui agresifitas, dan karena dia mudah aksesnya mendapatkan senjata api, maka itulah yang terjadi.

Psikolog klinis Inggris Paul Gilbert mengembangkan suatu teori yang disebut Teori Perhatian Sosial. Menurut Gilbert, kita bersaing satu sama lain untuk meminta orang lain memperhatikan kita; ketika orang lain memperhatikan, kami membangun status. Meningkatnya status yang berasal dari orang lain yang memperhatikan kita menyebabkan semua jenis emosi positif. Tetapi terus-menerus diabaikan oleh orang lain menghasilkan banyak emosi yang lebih gelap – terutama kecemburuan dan kemarahan.

Dan yang paling sering merasa diabaikan ini adalah remaja. Tak heran akibatnya di AS terjadilah banyak penembakan di kampus sekolah.

Media sosial mengakibatkan seseorang terabaikan dalam dunia nyata. Dan rasa terabaikan ini dapat membuat jiwa seseorang tertekan. Mungkin dalam dunia maya dia masih bisa mengekspresikan dirinya, tapi sayangnya, perasaan tertekan dalam dunia nyata itu takkan bisa hilang.

Seberapapun lamanya dia berkutat di dunia maya, dia tetap saja harus berinteraksi sosial di dunia nyata, dia harus keluar membeli makanan, dia harus bertemu teman sekolah dan sebagainya.

Tapi sayangnya ketika dia ‘kembali’ ke dunia nyata, ternyata dia mendapat perlakuan yang ‘tidak seindah’ dunia maya, akhirnya dia terkekan, lalu kembali mengucilkan diri, kembali ke dunia maya.

Maka ini terjadi berulang kali hingga sampai pada titik pertahanan itu jebol dan terjadilah histeria depresif. Si penderita bisa melakukan hal-hal yang di luar akal sehatnya, termasuk penembakan.

Eksibisionisme Sadistik
Kembali kepada kasus Penembakan New Zealand, yang terjadi mungkin lebih parah lagi: si Pelaku sudah merasakan depresi dan kekecewaan di dunia nyata, ditambah lagi dengan informasi berupa doktrinasi penuh kebencian di internet, dan kebetulan sekali, dia merasa indoktrinasi kebencian itu ‘sejalan’ dengan dirinya.

BACA JUGA:  Rules Don't Apply

Hal ini sebenarnya lumrah kita temui dalam kasus Terorisme, di mana si pelaku Bom Bunuh diri adalah korban indoktrinasi. Jadi resepnya: Kekecewaan + Indoktrinasi + Kebencian , jadilah ramuan untuk melakukan terorisme.

Kasus Penembakan New Zealand pun sebenarnya terorisme. Perbedaannya hanya jika terorisme ada ‘iming-iming’ hadiah di ‘kehidupan selanjutnya’ berupa surga atau bidadari, maka dalam kasus Penembakan New Zealand, iming-iming hadiah surga itu tidak ada. Murni digerakkan oleh kebencian dan ajaran luhur Supremasi kulit putih

Akhirnya si Pelaku, Brenton Tarrant merasa ajaran di internet itu seperti ‘Dewa Penyelamat, atau ‘Jalan Kebenaran’ bagi dirinya. Perlahan tapi pasti, pemikirannya pun berubah menjadi radikal, ditambah kebencian, dan akhirnya berujung nekat.

Karena dia sudah merasa ‘ditolong’ oleh ajarannya. Maka sebagai ‘balas jasanya’ pun dia melakukan sesuatu juga buat dunia maya: Yaitu dengan membawa aksinya di dunia nyata ke dunia maya. Dia merekam semua adegan sadis Mungkin menurut dia ini (maaf sekali lagi) mengasyikan.

Jelas Tarrant memperlihatkan gejalan Eksibisionisme Sadistik. Dia seperti (maaf) ‘menikmati’ tindakannya, buktinya dia sengaja merekam semua ‘adegan’ itu dan ditambah pula dengan alunan ‘soundtrack’ musik metal, mengesankan seolah-olah dia sedang dalam film, atau sedang bermain game komputer yang penuh kekerasan.

Dan parahnya lagi, dia tidak merasa bersalah, sesuai paham ajaran yang ia anut, Tarrant menganggap yang dia lakukan adalah suatu ‘tugas mulia’

Adalah suatu gejala penyakit mental dimana orang menjadi delusional, tidak bisa membedakan kenyataan dan khayalan. Tapi bagi orang normal pun dalam kondisi tekanan batin tertentu, atau terindoktrinasi ajaran tertentu, bisa menjadi brutal.

Boleh jadi Brenton Tarrant menikmati kebrutalannya, dia merasa seperti sedang bermain Game. Tapi masalahnya kalau dia masih mau memakai akal sehat, ini bukan Game, ini dunia nyata. dan orang-orang yang dia tembaki BETUL-BETUL mati!

Allan Fransiskus
Allan Fransiskus Mpsi
Seorang praktisi Psikologi

Opini Cerdas menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berbicara. Kami mengundang Anda menjadi Penulis, SIAPAPUN dan DARI PIHAK MANAPUN boleh membagikan opini dan pemikiran secara cerdas dan bertanggung jawab, TANPA SENSOR! Klik di sini




Suka Artike ini? Tolong di-Like dan Share:
RSS
Follow by Email
Facebook0
Google+0
https://opinicerdas.com/2019/03/melihat-penembakan-massal-new-zealand-dari-perspektif-psikolog
Twitter20
Instagram20

13 thoughts on “Melihat Penembakan Massal New Zealand dari Perspektif Psikologi

  1. Pingback: chloroquine rx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *