Menjawab Kehebohan Tagar #INAElectionObserverSOS dari Sisi I.T.

Sebenarnya saya Netral, saya tidak memihak pihak manapun dalam Pemilu 2019 ini, walaupun saya tidak Golput. Tapi apapun pilihan saya di bilik suara nanti, itu urusan saya dengan Tuhan.

Tapi saya sebagai praktisi I.T. tergelitik dengan isu ini, tentang viralnya kode tagar yang dibuat di media sosial oleh barisan oposisi yaitu tagar ‘INA Election Observer SOS’ atau dalam bentuk orisinilnya: ‘#INAElctionObserverSOS’ (tanpa tanda kutip).

Kita sudah maklum. Tagar itu disebarkan pendukung oposisi untuk menyerang calon Presiden pertahanan Joko Widodo alias Jokowi. Serangan tagar itu berupaya memberikan opini fiktif (tapi buat mereka itu nyata) bahwa banyak terdapat pelaku kecurangan Pemilu presiden dan legislatif RI, yang sebenarnya BARU AKAN diadakan tanggal 17 April 2019 nanti.

Salah satu bukti yang mereka sertakan adalah konten berupa video oknum polisi yang melakukan aksi mendukung Jokowi dan mengajak orang lain agar berterima kasih mendukung Jokowi.

Video itu langsung ‘digoreng’ untuk menggiring opini bahwa Polri, Kepolisian RI sebagai institusi secara keseluruhan adalah pihak yang tidak Netral dalam Pemilu Presiden 2019. Walaupun bukti permulaannya hanya sebuah video yang belum jelas klarifikasinya.

Apa tujuan tagar tersebut?
Tujuannya jelas untuk mengundang (baca:memancing) orang luar negeri agar memperhatikan. Agar memiliki opini bahwa Pemilu di Indonesia penuh dengan kekacauan, chaos , dan kecurangan (walaupun Pemilunya sendiri belum terjadi).

Intinya adalah menanamkan rasa ketidakpercayaan orang luar luar negeri (delegitimasi) pada pemerintahan yang sekarang.

Kata ‘SOS’ mengindikasikan bahwa mereka mencoba menggiring persepsi bahwa keadaan di Indonesia sudah gawat darurat, seolah-olah seperti mau terjadi Revolusi atau Perang.

Perang dengan siapa?

Entahlah! Kita sudah maklum bahwa memang kerjaannya oposisi untuk menjual ‘ketakutan’. Jaman dulu orang politik menjual Harapan tetapi sekarang orang politik lebih menjual Ketakutan. Kebenaran yang disampaikan pun bukan lagi kebenaran nyata tetapi lebih kepada ‘Post Truth’

Tapi sekalipun menjual ketakutan agaknya tetap saja berlebihan jika ‘mengkondisikan’ negara ini seperti dalam keadaan darurat perang.

Mungkin itu sebabnya tidak sampai sebulan, tagar #INAElectionobserverSOS diubah sendiri oleh mereka menjadi #IndonesiaCallsObserver , tanpa kata ‘Election’ dan tanpa kata ‘SOS’

Apa itu Kode Tagar ?
Dasar teorinya lumayan panjang di dunia I.T. Tapi saya mencoba meringkasnya. Tanda tagar (#) / pound adalah tanda untuk memudahkan mesin pencari. Biasanya ini terdapat di media sosial dan micro blogging semacam Twitter.

Tagar atau hashtag adalah sebuah metadata, yang berarti sebuah sistem informasi yang BERKAITAN dengan konten data yang sebenarnya. Jadi hashtag itu bukan data sebenarnya melainkan hanya berfungsi sebagai pengait dari data-data yang berkaitan dengan itu, lebih kurang fungsinya semacam jangkar (anchor).

BACA JUGA:  Umat Islam Indonesia di Ambang Perang Saudara. (Bagian 1)

Kode tagar seringkali ditulis dengan camel case biar mudah dibaca karena kode hashtag tidak boleh ada spasi , sebenarnya tagar itu case insensitive, tidak ada pengaruhnya huruf kecil atau kapital.

Ketika beberapa orang menulis beberapa posting diberi kalimat tanda tagar tertentu yang sama persis, maka jika ada orang mengetik kalimat tagar itu di mesin pencari, mesin pencari akan memberikan semua postingan yang menggunakan tanda tagar tadi.

Ketika orang mengetik tanda tagar di mesin pencari universal seperti Google atau Bing, maka akan muncul konten dari semua website media sosial. Pengecualiannya adalah Twitter, tanda tagar yang ada di Twitter hanya akan muncul di Twitter.

Mengapa tagar INAElectionObserverSOS  bisa tersebar luas di semua media sosial?
Jawabannya karena Robot, baik robot beneran berupa program, atau ‘Robot manusia’. Apa maksudnya?

Yang pertama maksudnya adalah program. Di beberapa sosial media seperti Twitter ada programmer yang bisa membuat BOT, yaitu program yang berfungsi mengirimkan dan menyebarkan Tweet secara otomatis. Dengan demikian suatu konten atau berita yang dibuat bisa langsung disebarkan ke ribuan pengguna dalam waktu singkat, dan tentu saja disertai dengan tanda tagar tersebut.

Sedangkan maksud yang kedua adalah ‘manusia yang sudah di-doktrin mirip robot’. Biasanya didoktrin karena memakai alat agama atau politik identitas.

Dan kita maklum di Indonesia memang ada sebuah partai agama yang bekerja berdasarkan sistem doktrinasi sistematis semacam ini. Mereka men-set para kadernya telah untuk menjalankan apapun yang diperintahkan oleh Murabbi atau ‘Imam Besar’ mereka. Tanpa berpikir dan tanpa bersikap kritis, apalagi mempertanyakan.

Mereka juga terlatih dan di-‘program’ untuk meng-create sesuatu dan memviralkan hal-hal yang seperti tagar ini.

Jadi jangan heran jika tagar beserta konten-konten pendukungnya seperti video, foto dan lain-lain, entah itu HOAX ataupun nyata, langsung tersebar di Youtube dan media sosial lainnya.

Berhasilkah ini?
Jawabannya tergantung bagaimana Anda mendefinisikan keberhasilan.

Jika yang Anda maksud keberhasilan adalah membuat suatu wacana menjadi trending topic, boleh jadi iya.

Tapi jika tujuannya ingin mengubah persepsi masyarakat Indonesia (apalagi dunia) untuk percaya bahwa Pemilu di Indonesia adalah ‘Betul-betul brengsek dan penuh kecurangan’– sepertinya masih jauh dari tujuan.

Kenapa bisa begini?

Sebab orang jaman sekarang sudah tidak mudah dibodohi dengan berita-berita viral begitu saja. Orang tentu akan mencari konfirmasi dan baru melakukan verifikasi.

Dan manakala mereka ternyata mendapatkan bahwa yang menyebarkan atau memposting berita itu adalah situs abal-abal yang domainnya gak jelas  , tidak berdiri sendiri tapi menginduk pada domain lain (misal blogspot dan wordpress) seperti: ‘webasal.blogspot.com’ atau ‘situspalsu.wordpress.com’ maka sudah pasti keakuratan berita itu layak dipertanyakan.

BACA JUGA:  Rules Don't Apply

Sekalipun orang-orang yang menyebarkan tagar itu memposting video oknum Polisi yang mendukung Jokowi, tapi sekali lagi: itu kan’ Oknum!

Orang yang kritis pasti berpikir: Apakah ada official statement dari Kepolisan bahwa mereka memang mendukung Jokowi? Apakah Kapolri Tito Karnavian yang mengatakan begitu? TIDAK! Malah Tito justru mengirim pesan kepada semua jajaran Kepolisian agar Netral dalam Pemilu 2019.

Dungu sekali menggeneralisir perilaku segelintir oknum menjadi sikap resmi sebuah lembaga.

Oknum ya oknum. Bicara oknum di mana-mana juga ada, oknum polisi yang jadi preman ada, jadi bandar sabu pun ada, yang terang-terangan dukung Jokowi juga ada. Tapi sekali lagi itu oknum dan itu tidak bisa dijadikan generalisir.

Dan kedua, karena bukti digital jelas-jelas membuktikan: Tagar itu menjadi viral HANYA di Indonesia saja. Orang luar negeri sepertinya tidak begitu melirik, apalagi atusias menjadi Observer.

Mau bukti?

Baik, banyak. Tapi saya tunjukkan 2 saja di sini. Jangan Anda berpikir saya akan memperlihatkan screen shoot hasil pencarian di Youtube, Facebook,Twitter dan lain-lain. Tidak!

Di Youtube dan FB sih jelas saja banyak, lha wong kontennya itu gampang diproduksi kok. Tinggal edit2 foto dan video terus upload , selesai!

Yang saya maksudkan di sini adalah BUKTI bahwa masyarakat dunia merespon isu ini. Apakah iya dunia antusias dan concern akan pemilu 2019 di Indonesia yang (katanya) penuh kecurangan?

1. Google Trends
Pertama , kita lihat Google Trends. Ini bisa dilihat bahwa kata kunci , baik itu tagar maupun kalimatnya saja bisa dianalisa , dan ternyata memang berhasil melejitkan trend di Google, setidaknya untuk 90 hari ke belakang.

Tapi kalau kita melihat skala dunia, trend itu HANYA di Indonesia saja. Sebagai contoh, saya mencari keyword “INA Election Observer SOS” (tanpa tagar).

Hasil Pencarian Google Trends untuk “INA Elcetion Observer SOS”

Dan kemudian kali ini saya cari dengan tanda tagarnya, keyword yang saya masukkan “#INAElectionObserverSOS”.


Hasil Pencarian Google Trends untuk “#INAElcetionObserverSOS”

Hasilnya sedikit lebih baik, mayoritas tetap Indonesia, tetapi di ‘luar negeri’ mulai ada trend, di Malaysia, Singapura, dan Saudi Arabia (yaah, tapi kita semua tahu di sana ada siapa di sana, bukan?)

Kemudian kita ketahui tak lama kemudian tagar #INAElectionObserverSOS berubah menjadi #IndonesiaCallsObserver ,jadi kita cari juga keyword baru itu di Google Trends.

BACA JUGA:  Di-Banned Youtube: Video Teror Virus Corona

Berikut adalah hasil pencarian untuk keyword “#IndonesiaCallsObserver”


Hasil Pencarian Google Trends untuk “#IndonesiaCallsObserver”

Belum ada hasil, tampaknya Google memang belum mengindeks tagar ini menjadi trend nya.

Bagaimana dengan tanpa tag , keyword nya kita pakai “Indonesia Calls Observer” saja (tanpa tanda tagar) ?



Hasil Pencarian Google Trends untuk “Indonesia Calls Observer”

Jauh lebih baik, trend itu langsung melejeit, tapi di Indonesia SAJA. Jadi sepertinya Google memang lebih memprioritaskan penggunaan keyword kalimat ketimbang tagar.

Bukti Kedua: Reddit

Reddit adalah situs diskusi terbesar di dunia, apapun dibahas di sini termasuk sosial dan politik. Jika suatu wacana menjadi viral di dunia pasti setidaknya itu banyak dibahas di Reddit.

Reddit diblokir oleh Menkominfo di Indonesia, alasan resminya terkait pornografi, alasan sebenarnya belum jelas, tapi perlu Anda ketahui di Reddit terus terang banyak sekali diskusi-diskusi kritis yang jika membaca cukup menjadi bahan ‘MindBlowing’.

Sekalipun diblokir tapi saya bisa mengaksesnya. Caranya bagaimana Anda tidak perlu saya kasih tau, silahkan cari sendiri 😀

Ini adalah hasil pencarian saya di Reddit untuk keyword: ‘INA Election Observer SOS’ , hasilnya TIDAK ADA.

Hasil pendarian di Reddit untuk “INA Election Observer SOS”

Lalu bagaimana dengan keyword hastag: ‘#INAElectionObserverSOS’


Hasil pendarian di Reddit untuk “#INAElectionObserverSOS”

Ada satu hasil pencarian. Ketika saya klik dan telusuri, hasilnya malah ini:


Diskusi di Reddit untuk “#INAElectionObserverSOS” bag.1

Diskusi di Reddit untuk “#INAElectionObserverSOS” bag.2

Anda perhatikan? Memang ada diskusinya di Reddit, tapi dari kata-kata yang berdiskusi sepertinya BUKAN si penyebar tagar, melainkan justru orang yang mencela tagar ini. Dengan kata lain justru pihak lawannya lah yang mendiskusikan.

Kesimpulan: Dunia Internasional TIDAK TERTARIK!!
Boleh jadi ini sebuah kesimpulan dini. Tapi saya pikir dari sini saja sudah cukup untuk memberi gambaran bahwa sebenarnya dunia internasional tidak begitu antusias dengan apa yang terjadi , maksud saya, apa yang digaung-gaungkan oleh pihak oposisi, bahwa (katanya) : Pemilu di Indonesia penuh kecurangan.

Bagaimana dengan media massa? Silahkan check sendiri di cnn.com , bbc.com, cnbc.com, Washitong Post, New York Times. Adakah? Media sosial saja tidak tertarik apalagi media massa asing?

Jadi ada kemungkinan besar apa yang terjadi pada kedua tagar ini, mungkin semacam reaksi kepanikan, atau trik baru untuk menyembunyikan kelemahan.

Atau bisa jadi adalah semacam penggiringan opini, bahwa jika nanti pemilu 17 April 2019 mereka kalah, mereka dengan mudahnya tinggal bilang: “Kami Dicurangi!” BERES!!

Pada akhirnya kemungkinan besar, tagar ini akan PDS (Padam Dengan Sendirinya) sama seperti tagar-tagar sebelumnya yang mereka buat: #2019GantiPresiden.

Tagar hanyalah tagar dan itu tidak merubah apapun.

ahlicoding.com

ahlicoding.com

rumah saya di 127.0.0.1

18 thoughts on “Menjawab Kehebohan Tagar #INAElectionObserverSOS dari Sisi I.T.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *