Mubazirkah MRT dan LRT?

Tanggal 24 Maret lalu, bangsa Indonesia khususnya masyarakat Jakarta dibuat antusias dengan diresmikannya MRT.

Saya bersyukur. Alhamdulillah, akhirnya Indonesia punya subway. Punya MRT.

semenjak kecil saya selalu bercita-cita Indonesia kelak punya subway sendiri. Beberapa kali saya diajak orang tuan ke luar negeri, naik transportasi umum di sana yang nyaman termasuk subway, kereta bawah tanah.

Dan saya sempat berangan-angan: Kapan ya Indonesia punya subway?

Tapi itu dulu. Sekarang karena sudah besar tentu gak bisa menilai hanya berpegang pada cita-cita masa kecil. Ketika sudah dewasa kita mesti menilai berdasarkan realita, bukan hanya idealisme.

Mengenai MRT dan infrastruktur angkutan umum lainnya, tentu menghabiskan dana yang tidak sedikit. Sebagai orang awam saya juga bertanya-tanya: Apakah dana yang sudah dikeluarkan memberikan manfaat dari MRT ini?

Agak miris juga mendengar nyinyiran sebagian orang , terutama sekali pihak oposisi pemerintah mengenai proyek-proyek seperti MRT dan LRT.

Dikatakan bahwa proyek-proyek itu hanya menguntungkan kelas menengah ke atas, rakyat kecil tidak bisa merasakan manfaatnya. Nyinyiran paling tajam seperti “Rakyat tidak butuh makan aspal jalan tol”, dan sebagainya.

Satu nyinyiran yang ingin saya bahas adalah bahwa dengan proyek inrastruktur angkutan massal seperti MRT dan LRT adalah mubazir, sebab pemerintah dirugikan triyunan per tahun karena harus mensubsidi, dan tidak bisa menutupi dari tiket penjualan.

Berhubung tulisan ini bukan tulisan politik, maka kita skip saja nyinyiran-nyinyiran itu. Kita cukup jawab saja dengan argumen-argumen yang masuk akal.

Pertama, nyinyiran seperti itu jelas mencerminkan cara berpikir sempit dan tidak makro.

Kalau ditanya apakah secara operasional MRT dan LRT , dan angkutan umum lainnya akan merugi karena penjualan tiket tidak menutupi, jawabannya memang IYA.

BACA JUGA:  PAHAM RADIKALISME , BAGAIMANA ANDA MENYIKAPI......?

Sumber Jawapos mengatakan: Tahun 2018 Busway disubsidi Rp 3,2 trilyun. Dan menurut CNBC Indonesia MRT Jakarta disubsidi Rp 672 milyar per tahun.

Kalau mau menutupi biaya operasional tiketnya mesti mahal sekali, tapi ini tidak mungkin dilakukan.Di mana-mana yang namanya angkutan umum ya memang tiketnya harus murah. Harus disubsidi oleh pemerintah. Yang namanya subsidi pasti rugi.

Tapi kita harus melihat sisi lain. Sisi makro. Pemerintah membuat infrastruktur angkutan umum tujuan utamanya adalah : Mengurangi Kemacetan yang terjadi di Jakarta, karena harapannya dengan infrastruktur Angkutan Umum yang memadai, masyarakat akan lebih menggunakannya ketimbang memakai mobil pribadi.

Dan menurut data BAPENAS, secara makro DKI Jakarta kehilangan Rp 67 trilyun per tahun gara-gara kemacetan. Faktor penyebab kehilangan itu bermacam-macam, mulai dari BBM hingga efisiensi kerja yang hilang.

Sekarang: taruhlah hitung-hitungan kasarnya untuk per tahunnya keseluruhan Pemerintah harus mengeluarkan Rp 10 trilyun untuk subsidi. Kalau mau dibandingkan dengan pemasukkan dari tiket ya jelas rugi.

Tapi katakanlah dengan adanya angkutan umum seperti MRT, LRT, BUSWAY, KCL (Commuter Line), pada akhirnya pemerintah berhasil mengurangi kerugian itu menjadi 50% nya saja. , berarti ada Rp 33,5 triyun kerugian yang berhasil dihemat. Itu artinya masih surplus Rp 23,5 triyun secara makro.

Belum lagi dari sektor konsumsi BBM. Satu kendaraan misalnya menghabiskan bensin Rp 100ribu per hari. Jika saja ada satu juta orang mau beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.
Berarti ada Rp100.000 x 1 juta = Rp 100 Milyar subsidi BBM yang dihemat per hari. lalu dikali 200 hari kerja dalam setahun misalnya, maka = Rp 20 triyun uang yang dihemat per tahun! Bayangkan!!

Pemikiran inilah yang tidak disadari oleh sebagian orang. Dan parahnya, pihak oposisi bukannya memberikan pendidikan yang benar justru malah menambah-nambah kepicikan ini, yang memang sebagian besar rakyat kecil pemikirannya tentu tidak sampai ke sana.

BACA JUGA:  Takut mati akan mendapat dua surga?

Kembali ke masalah ekonomi. Tapi sekalipun harapannya bisa mengurangi efek kemacetan, masih ada satu pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah, yaitu “BAGAIMANA mendidik masyarakat agar lebih mengutamakan menggunakan angkutan umum dibandingkan kendaraan pribadi”.

Sebab, jika proses pendidikan ini gagal, maka segala macam infrasturuktur yang dibangun akan sia-sia.

Tapi MRT Jakarta Tidak ada Gunanya Kalau…

1. Penjualan mobil di Jakarta terus meningkat
Data penjualan mobil di provinsi DKI Jakarta terus meningkat. Dirilis dari sumber Gaikindo, penjualan mobil naik rata-rata 10 – 11 persen per tahun. Tahun 2018 ada lebi dari 1 juta unit mobil terjual, dan 70% belinya kredit, dan sebagian besar pembelian itu adalah warga Jawa Barat dan Jakarta menurut sumber.

Apa artinya ini ? Artinya kelajuan pertumbuhan kendaraan di Jakarta jauh lebih cepat dibandingkan ketersediaan infrastruktur angkutan massal. Ini yang mengakibatkan program infrastruktur masif seperti MRT bakal terlihat ‘percuma’


2. Masyarakat Masih Gemar memakai Kendaraan Pribadi
Anda ingin mengukur seberapa banyak orang Egois di Jakarta?

Gampang! Lihat saja berapa mobil yang HANYA dinaiki oleh satu orang pada jam kerja?!

Memang, dibanding angkutan umum naik kendaraan pribadi pasti lebih enak, lebih privasi, sendirian, sambil dengar musik.

Tapi sayangnya: Ini adalah perilaku Egois dan TIDAK PUNYA kesadaran bermasyarakat, kalo boleh dibilang kasar. Berapa banyak ruang jalan yang dia ambil hanya untuk dirinya sendiri? Alangkah baiknya jika ruang-ruang itu dia sharing juga kepada orang lain bukan?

3. Urbanisasi Tidak dibendung
MRT jelas berguna untuk meningkatkan pamor Jakarta menjadi kota metropolitas di dunia sejajar dengan New York, Tokyo, London, dsb. Tapi sisi jeleknya ini juga makin memperkuat Jakarta sebagai ‘magnet’ bagi arus pendatang.

BACA JUGA:  Sandiaga VS KH. Ma'ruf - Pandangan Ustad Al Qahwah Yang Tidak Biasa

Urbanisasi jelas menjadi kasus problematik sendiri bagi warga Jakarta. Yang akan sering timbul adalah permasalahan sosial. Jumlah penduduk terlalu banyak, ditambah lagi kaum pendatang memakai kendaraan motor pribadi.

Untuk mengatasi ini tak bisa selain harus ada Political Will dari Pemerintah untuk membagi kue pembangunan juga ke daerah-daerah.

Kesimpulan
Jokowi tidak salah ketika mengatakan bahwa MRT merupakan ‘Budaya Baru’ bagi masyarakat Jakarta. Pada kenyataannya memang ada dua hal yang harus dibenahi di kota ini. Pertama infrastruktur, dan kedua Budaya masyarakatnya itu sendiri, budaya untuk membuat masyarakat lebih memilih menggunakan Angkutan umum ketimbang kendaraan pribadi.

Masalah pembenahan infrastruktur itu bagiannya pemerintah, dan itu bisa diukur sebab hasilnya jelas terlihat di depan mata.

Yang sulit adalah pembenahan budaya. Bagaimana mengukurnya? Satu-satunya cara adalah dengan melihat data output di atas.

Jika jumlah pertumbuhan kendaraan pribadi, dan jumlah penggunanya di jalan-jalan ibu kota berhasil diredam , maka langkah ini berhail.

Pemerintah DKI Jakarta sudah berusaha ‘membentuk budaya’ dengan cara menerbitkan berbagai peraturan, dimulai dari 3 in 1, ganjil genap, hingga yang terakhir ERP. Tapi jika itu tidak berhasil membentuk budaya komunal masyarakat Jakarta ya percuma saja.

Memang, membentuk budaya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun ini harus dikerjakan bagaimanapun. Agaknya masyarakat kita harus ditanamkan sebuah kesadaran:

Bahwa Memakai Kendaraan pribadi di Jakarta pada di jam-jam sibuk merupakan sebuah Keegoisan.

Rian Hariadi
Rian Hariadi
Seseorang yang suka iseng. Alumni Fisika ITB, seorang Programmer, dan Software Engineer di sebuah pers. I.T.

Opini Cerdas menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berbicara. Kami mengundang Anda menjadi Penulis, SIAPAPUN dan DARI PIHAK MANAPUN boleh membagikan opini dan pemikiran secara cerdas dan bertanggung jawab, TANPA SENSOR! Klik di sini




Suka Artike ini? Tolong di-Like dan Share:
RSS
Follow by Email
Facebook0
Google+0
https://opinicerdas.com/2019/03/mubazirkah-mrt-dan-lrt
Twitter20
Instagram20

8 thoughts on “Mubazirkah MRT dan LRT?

  1. Pingback: price for cialis
  2. Setuju sih kalo MRT n LRt bisa bikin rugi kalo harga tijet gak.nutup..
    Terkait keegoisan pengguna mobil pribadi sebenarnya kembali lagi sama undang2 pemerintah … Kita bukan singapura yg barangsiapa punya mobil pribadi kena pajak dan masa berlaku berapa tahun harus ganti…. Kita bukan Taiwan, yang mana aspal selalu dibuat baik dan mulus dalam.pembuatannya, saya melihat tidak ada lubang di aspal sama sekali tidak, sehingga penduduknya semua menggunakan motor matic dan itu made in Taiwan or China… Undang2 yang maengatur ,,, mari pertegas undang entah dalam pembuatan maupun saat diaplikasikan ke masyarakat… Bukan hanya gembor2 bahwa pejabat A sudah buat ini dan itu tapi saat diaplikasikan, malah tidak ada perawatan atau pengawasan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *