Takut mati akan mendapat dua surga?

Muliawan

Ini tulisan lama untuk saya tayang perdana di opinicerdas.com. Mudah-mudahan bermanfaat.

Saya sangat tergelitik dengan pernyataan seorang teman yang mengemukakan tentang hal ini dalam suatu percakapan di salah satu WAG yang saya ikuti. Agar tidak salah mengungkapkan saya kutip pernyataannya sebagai berikut:

“Ada hadist Nan…bhw orang yang takut mati…Allah membukakan 2 pintu surga baginya….jd wajar klo kita merasa takut…ga salah kok…”

“Ar Rahman ayat 46: Wa liman khaafa maqaama Rabbihi jannataan. Dan bagi orang2 yg takut saat menghadap Tuhannya (mati) ada dua surga.
Jadi takut mati unyuk menghadap Allah adalah baik…”

Percakapannya adalah tentang melakukan sesuatu yang mengandung resiko kematian. Saya tidak membahasnya di WAG tersebut agar tidak mengganggu percakapan di situ. Bukan untuk merendahkan seseorang, melainkan hanya mengungkapkan suatu pendapat yang perlu diluruskan. Bisa jadi pandangan saya salah, untuk itu mohon masukan teman-teman di sini.

Sebelum membahas hadits atau ayat yang dimaksud tersebut, mari kita perhatikan ungkapan dalam bahasa arab mengenai kata “takut” dan “mati”. Dalam bahasa arab banyak kata yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai kata “takut”. Pertama, kata khâfa [خاف] secara luas berarti takut, gentar, cemas, curiga, khawatir dll. Dalam hal ini takutnya adalah dalam nuansa ketidakpastian. Kedua, kata khasyiya [خشي] secara luas berarti kagum, kagum dengan penuh penghormatan dan takut. Dalam hal ini takutnya adalah dalam nuansa positif tentang konsekuensi pilihan. Ketiga, kata hadzira [حذر] secara luas berarti berjaga-jaga, bersiap-siap dan takut. Dalam hal ini takutnya adalah diakibatkan adanya suatu pertanda yang membangkitkan hal tersebut.

Kata “mati” dalam bahasa Indonesia mempunyai pengertian yang sama dengan bahasa arab mawt [موت] yaitu lawan dari kata “hidup” yang dalam bahasa arab adalah hayy [حيى]. Sebagaimana hidup, mati juga ada bermacam-macam. Merosotnya kekuatan, penginderaan, daya tumbuh dari manusia, hewan atau tumbuhan. Hilangnya kemampuan berekpresi, mengecap kenikmatan, persepsi atau berimajinasi. Yang demikian adalah contoh tentang mati. Bisa saja jasad hidup tetapi secara spiritual mati.

BACA JUGA:  Contoh Artikel Dalam Kategori Ekonomi dan Bisnis

Perhatikan apa kata Al Quran tentang mati:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Terjemahan: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [QS Ali Imran 3:185]

Adapun frasa “takut mati” dalam Al Quran hanyalah berhubungan dengan kata hadzira [حذر] sebagaimana ayat berikut ini:
أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ

Terjemahan: Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab “takut” mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. [QS Al Baqarah 2:19]

Mati adalah suatu kepastian sebagaimana diterangkan QS 3:185 di atas. Barangsiapa yang “takut mati” dapat dikatakan sebagai orang-orang yang cenderung mencintai kehidupan di dunia. Padahal kehidupan di dunia adalah kesenangan yang memperdayakan. Kehidupan sesungguhnya adalah di akhirat, entah dalam surga atau dalam neraka, sesuai dengan amal perbuatannya di dunia yang balasannya diperhitungkan setelah mati.

Benarkah QS Ar Rahmân 55:46 menjanjikan dua surga bagi yang “takut mati”? Simak bacaannya:
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ
– Terjemahan Depag: Dan bagi orang yang “takut” akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga.
– Terjemahan Muntakhab: Bagi siapa yang “takut” akan kekuasaan Tuhan akan memperoleh dua surga besar.
– Terjemahan Malaysia: Dan orang yang “takut” akan keadaan dirinya di mahkamah Tuhannya (untuk dihitung amalnya), disediakan baginya dua Syurga
– Terjemahan bahasa Inggris Yusuf Ali: But for such as “fear” the time when they will stand before (the Judgment Seat of) their Lord, there will be two Gardens-
– Terjemahan bahasa Inggris Sahih International: But for he who has “feared” the position of his Lord are two gardens

BACA JUGA:  Analisa Psikologi dari Debat Capres ke-4 Pemilu 2019

Semua terjemahan yang dikutip di atas tidak ada satupun yang menyebutkan tentang kata “mati” baik dalam penerjemahan langsung maupun penafsiran mengenai “maqâma rabbihi”. Entah kutipan terjemahan dari mana, teman saya memperoleh kutipan yang tersebut di atas. Jika pengertian ini dibiarkan, maka akan dapat menyesatkan orang lain yang menerimanya mentah-mentah tanpa menelaahnya.

Adapun Asbabun nuzul ayat ini adalah:
Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis, dan demikian pula Abu Syekh di dalam kitab Al’Azhamahnya. Mereka berdua mengetengahkan hadis ini melalui Atha. Disebutkan bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq menyebut-nyebut tentang keadaan hari kiamat, timbangan amal perbuatan, surga dan neraka. Lalu ia berkata, “Sesungguhnya aku sangat mengharapkan seandainya aku menjadi sayur-mayur yang hijau seperti ini. Lalu aku didatangi oleh ternak dan memakanku. Sesungguhnya aku berharap seandainya aku tidak diciptakan.” Setelah itu turunlah firman-Nya, “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabbnya ada dua surga (baginya).” (Q.S. Ar Rahman, 46) Imam Ibnu Abu Hatim mengetengahkan pula hadis lainnya melalui Ibnu Syaudzab yang menceritakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Bakar Ash Shiddiq.

Dengan perkataan Abu Bakar Ash Shiddiq RA dapat kita bayangkan betapa khawatirnya beliau akan perhitungan amal perbuatannya. Apakah diterima atau tidak pada hari perhitungan. Lebih baik mati sebagai tanaman yang dimakan oleh hewan ternak daripada menghadapi perhitungan tentang amal perbuatannya. Bahkan, lebih baik tidak ada sama sekali. Padahal kita tahu bahwa beliau orang yang paling shalih setelah Nabi SAW. Perhatikan, dalam ayat ini digunakan kata khâfa [خاف] yaitu takut yang penuh ketidakpastian.

BACA JUGA:  Coding Mum, Ketika Emak-emak menjadi Programmer

Sebagai pengetahuan tambahan, kata khasyiya [خشي] diungkapkan dalam ayat:
جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ
Terjemahan: Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang “takut” kepada Tuhannya. [QS Al Bayyinah 98:8]

Jadi, kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti karena hal itu adalah suatu kepastian. Yang perlu ditakuti adalah dalam keadaan seperti apa ketika kematian itu datang. Apakah ringan timbangan amal shalih kita? Apakah kita dalam keadaan bermaksiat kepada Allah SWT? Apakah pada saat sakratul maut menjelang kita tidak mampu mengucapkan “laa ilaaha illallah”?

Muliawan

Muliawan

Penuntut ilmu sampai akhir hayat

13 thoughts on “Takut mati akan mendapat dua surga?

  1. Pingback: chloroquine drug

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *