Memakai Gopay / Ovo tapi BEBAS (MINIM) Riba

Belakangan ini banyak kalangan agamis Islam yang mempermasalahkan sistem pembayaran Cashless seperti Gopay , Ovo, ataupun e-Money, beberapa ulama seperti Ustad Erwandi Tarmidzi jelas-jelas mengatakan bahwa semua fasilitas sistem pembayaran itu Riba dan tidak sesuai Syariat Islam.

Tanggapan saya:
Jawaban saya sederhana, sebelum ngomong jauh-jauh soal riba-nya Gopay dan Ovo, saya mau bertanya balik : APA SIH JAMAN SEKARANG YANG GAK KENA RIBA??

Kalau memang gak mau kena riba sama sekali sarang saya cuman satu: Ganti Mata Uang-nya. Jangan pakai Rupiah! Anda memakai mata uang Rupiah pun masih kena riba. Kalau ingin tahu kenapa penjelasannya panjang. Silahkan pelajari teori pencetakan mata uang.

Tapi singkatnya begini: Pencetakan uang kertas tidak bisa sembarangan, itu membutuhkan collateral atau jaminan untuk mem-back up nilai uang itu. Collateral yang dipakai biasanya emas atau cadangan devisa (valas).

Berhubung cadangan emas negara ini terbatas (dan sengaja dibatasi karena kita dilarang IMF untuk memiliki cadangan emas banyak), maka yang bisa dijadikan jaminan utama adalah cadangan devisa, dalam hal ini mata uang US dollar.

Dengan kata lain Rupiah dicetak dengan jaminan US Dollar. Lalu ditelusuri kembali, US Dollar dicetak dengan jaminan apa? Jaminan emas?

BUKAN! US Dollar dicetak dengan jaminan HUTANG! Lebih tepatnya Debt Note, pemerintah Amerika berhutang kepada Bank Sentral mereka sendiri, The Fed (yang dimana The Fed sendiri justru dimiliki oleh swasta, bukan pemerintah). Dan hutang itu tentu saja berbunga, jadi ada riba di sini.

Jika Pemerintah AS berhutang 1 milyar dollar, maka pada saat itu The Fed kemudian mencetak uang $1 milyar yang kemudian diedarkan ke seluruh dunia. lalu bagaimana untuk melunasi hutang tersebut berikut bunganya? Ya dari nilai pendapatan masa depan, dari pajak dan sebagainya.

BACA JUGA:  Contoh Artikel Dalam Kategori Jualan (Review Produk)

Demikian kisah singkatnya. Lebih jauh Anda bisa nonton di link ini. Jadi jelaslah bahwa ujung-ujungnya memakai mata uang Rupiah, dan mata uang negara lain pun masih terkena riba juga, karena mata uang itu sendiri dicetaknya memakai prinsip-prinsip riba.

Lalu pakai apa? Dirham? Dinar? Bisa, tapi tidak 100% juga. Memang bisa karena nilai emas stabil, tapi sayangnya Anda harus tahu: harga emas itu setengah DIKONTROL. Jika Anda lihat spot harga emas versus dollar , emas dengan Rupiah, itu tidak sepenuhnnya ditentukan oleh mekanisme pasar. Itu dikontrol oleh segelintir pihak bankir-bankir di dunia. Anda bisa lihat lebih jauh di video di link ini.

Satu-satunnya cara untuk bebas murni dari riba adalah dengan melakukan barter. Barang ditukar dengan barang, bukan dengan uang. Mengapa tidak? Bukankah pada hakikatnya uang hanya perantara? Kalau kita bisa melakukannya tanpa perantara, mengapa tidak?

Tetapi masalahnya, kalau begitu berarti kita kembali ke jaman batu. Untuk skala besar barter masih bisa dilakukan. Pemerintah membeli pesawat Sukhoi dari Rusia dibayar dengan hasil bumi. Ini pun barter, tapi itu skala besar jutaan dollar nilainya. Untuk skala retail tentu sulit.

Uang Fiat dan Uang Digital
Apa yang kita singgung di atas adalah mata uang fiat yaitu uang kertas. Sekarang dunia melangkah ke arah yang lebih muktahir yaitu mata uang digital.

Jika mata uang fiat secara teknis hanyalah kertas yang bernilai karena regulasi pemerintah. Sedangkan mata uang digital tidak ada bentuknya kecuali data yang tersimpan dalam penyimpanan elektronik.

Mata uang digital tidak memerlukan fisik kecuali media yang memuat data seperti kartu memori dan server. Bahkan tidak perlu kertas, hitam di atas putih sekalipun, itu sebabnya kenapa mata uang digital adalah salah satu pondasi dari Masyarakat Tanpa Uang Cash atau Cashless Society.

Mata uang digital dibagi dalam 2 bentuk: e-money dan e-wallet. Gopay dan Ovo termasuk ke dalam e-wallet, sedangkan Flazz, kartu Brizzi, Mandiri e-money, itu termasuk e-money.

BACA JUGA:  Kenapa Pelaku Porstitusi Tidak Bisa Dihukum?

Sebelum melangkah lebih jauh, kita harus bisa membedakan dahulu antara e-money dengan e-wallet. Orang sering salah arti menyangka kedua hal itu sama. Padahal jauh berbeda.

Jika Anda memegang e-money, Anda memakai mata uang Rupiah dan HARUS SAMA nilainya dengan nilai Rupiah riil. Jika uang kertas 100ribu rupiah disetorkan dan dijadikan e-money maka nilai saldo e-money nya juga harus 100ribu. Jadi dengan kata lain, e-money hanyalah pengejewantahan dari uang kertas ke dalam bentuk data. Jadi tak ubahnya seperti uang kertas tapi tanpa kertas.

Sedangkan Gopay, Ovo, Dana, dan juga kupon-kupon poin seperti Ponta, Indopoint, mereka termasuk e-Wallet. Dalam e-Wallet nilai mata uang TIDAK MESTI SAMA dengan mata uang yang disetorkan dan di-convert ke saldo. Jadi boleh dibilang , e-Wallet memakai mata uang sendiri.

Saat Anda men-top up Gopay sebenarnya Gopay memakai mata uang sendiri, walaupun mengakunya tetap saja bernama Rupiah. Tapi ‘Rupiah Gopay’ dengan Rupiah lembaran kertas yang Anda miliki nilainya BERBEDA.

Mau bukti?

Coba lihat misalkan Anda berpergian dengan menggunakan pembayaran Gopay. Jika Anda bayar Cash harganya misalkan Rp 15.000 , tetapi jika memakai Gopay biayanya hanya Rp 10.000.

Anda pasti berpikir: ASYIIK! Ada diskon Rp 5000. Ya kan?

EITS! Nanti dulu!

Itu bukan diskon. Tapi keadaan yang sebenarnya adalah: mata uang ‘Rupiah Gopay’ lebih kuat dari mata uang ‘Rupiah kertas’ yang Anda pegang. Untuk jasa senilai Rp 15.000 dibayar dengan suatu mata uang asing yang hanya Rp 10.000 , artinya mata uang ‘Rupiah Gopay’ nilainya 33% lebih tinggi dari mata uang Rupiah real yang Anda pegang.

BACA JUGA:  Strategi Hukum: Waspadai Margarito Kamis & BW yang Bisa Batal Membela 02 ke MK, Ini Penjelasan Hukumnya!

Terbayang?

Inilah sebabnya Gopay dan Ovo disebut sebagai e-wallet, bukan e-monney, karena dia memiliki kurs yang berbeda dari uang Real.

Jadi, Gopay dan Ovo Terkena Riba?
Sudah saya jelaskan di atas: Tidak ada yang bisa lepas dari riba, bahkan mata uang Rupiah sekalipun. Tapi bukan berarti kita tidak bisa secara maksimal menghindarinya.

Gopay itu katanya hutang Gojek pada kiita. Benarkah ?
Sebagian kalangan agamawan termasuk ustad Erwandi Tarmidzi mempermasalahkan Riba Gojek berawal dari sini, beliau mengatakan bahwa Gopay pada hakikatnya adalah hutang Gojek kepada kita. Dan ketika kita menghutangkan lalu Gojek memberi diskon atas pemakaian Gopay, di situlah dosanya karena orang yang mendapat manfaat dari menghutangkan termasuk Riba.

Di Islam sendiri ada Hadist yang mengatakan bahwa jika kita meminjamkan uang ke seseorang, kita tidak boleh menerima manfaat perlakuan baik dari dia, walaupun hanya sebatas makanan ringan atau menunggangi keledainya.

Dalam hal ini saya kurang sependapat. Mereka memang menciptakan Riba, tetapi ribanya bukan Riba karena hutang, tetapi riba yang diakibatkan oleh kelebihan nilai mata uang, atau istilah agamanya Riba Nasi’ah.

Rian Hariadi
Rian Hariadi
Seseorang yang suka iseng. Alumni Fisika ITB, seorang Programmer, dan Software Engineer di sebuah pers. I.T.

Opini Cerdas menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berbicara. Kami mengundang Anda menjadi Penulis, SIAPAPUN dan DARI PIHAK MANAPUN boleh membagikan opini dan pemikiran secara cerdas dan bertanggung jawab, TANPA SENSOR! Klik di sini




Suka Artike ini? Tolong di-Like dan Share:
RSS
Follow by Email
Facebook0
Google+0
https://opinicerdas.com/2019/04/memakai-gopay-ovo-tapi-bebas-minim-riba
Twitter20
Instagram20

8 thoughts on “Memakai Gopay / Ovo tapi BEBAS (MINIM) Riba

  1. Pingback: buy tylenol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *