Siasat ‘Cari Aman’ Anies Baswedan di Kerusuhan 22 Mei 2019

Sekali lagi suatu tragedi kemanusiaan terjadi di negara tercinta ini. Sebulan setelah pelaksanaan pemilu 17 April 2019, Jakarta dan beberapa kota lain dilanda chaos tanggal 22 Mei dini hari atau sehari setelah pengumuman hasil kapitulasi suara KPU yang memenangkan pasangan calon presiden Joko Widodo – Ma’aruf Amin.

Banyak orang bilang kejadian ini mirip kejadian kerusuhan Mei 98. Tapi saya bilang ‘Puji Tuhan belum separah itu. Tahun 98 jauh lebih parah, lebih brutal, dan lebih mengerikan.’

Saya teringat betul, bulan Mei 98, saya masih kelas 6 SD, sedang giat-giatnya ekskul untuk menghadapi Ebtanas. Saya masih polos dan tidak tahu apa-apa tiba-tiba saja terkaget kaget ketika Suster Ida (pengasuh saya saat kecil), tiba-tiba datang ke sekolah menjemput saya.

Kami beruntung Gubernur Jakarta saat itu, Pak Sutiyoso alias Bang Yos, sangat sigap. Sebagaimana diberitakan di sini, Bang Yos ketika mengetahui terjadinya aksi penjarahan langsung berkoordinasi dengan aparat setempat.

Dan ternyata benar, huru-hara terjadi. Penjarahan d mana-mana. Kami yang warga keturunan dalam semenjak menjadi terancam.

Kami bersyukur dan berterima kasih sekali pada aparat. Kami sejenak lupa pada anggapan umum saat itu bahwa kaum militer dibenci karena mereka alat penguasa. Tokh nyata-nyatanya mereka memang membantu kami kok.

Jujur kami akui, kami sekeluarga berhutang budi, bahkan boleh jadi berhutang nyawa pada Bang Yos, Seandainya Bang Yos tidak mengerahkan tentara untuk menjaga komplek kami, dan mengawal hingga perusuh tidak bisa masuk, entah apa jadinya.

BACA JUGA:  Menjawab Kehebohan Tagar #INAElectionObserverSOS dari Sisi I.T.

Ah sudahlah! Saya tidak ingin lagi membahas kejadian itu, dan saya berharap tidak akan pernah lagi melihat pemandangan semengerikan saat itu.

Tetapi sekarang saya terusik lagi akan memori kejadian memilukan Mei 98, karena peristiwa kemarin. Polanya hampir sama, tapi untungnya kali ini kondisinya jauh berbeda, saat ini aparat, Polisi dan TNI bersama rakyat.

Lalu bagaimana dengan Gubernur Jakarta yang sekarang, Anies Baswedan, dalam menyingkapi kerusuhan 22 Mei 2019? Mohon maaf saya sangat tidak respek sekali. Apabila dibandingkan dengan Gubernur Sutiyoso saat itu, langkah-langkah yang dilakukan Anies jauh sekali dari kebijaksanaan seorang Pemimpin daerah.

Kita sudah tahu, jauh hari sebelum tanggal 22 Mei memang sudah ada imbauan dari pemerintah akan bahaya “People Power”, dan juga imbauan untuk tidak ikut-ikutan. Tapi kita juga tahu bahwa Anies justru melakukan langkah sebaliknya yang ‘unpopuler’.

Dimulai dengan mengeluarkan statement bahwa Pemda Jakarta akan menanggung biaya pengobatan Rumah Sakit para demonstran yang ‘terluka’, dan ini benar-benar diwujudkannya. Anies bahkan bertindak lebih jauh. Tanggal 22 Mei 2019 ketika kerusuhan memang benar-benar terjadi di sejumlah titik di Jakarta dan betul-betul menjatuhkan korban jiwa, Anies malah ikut sebagai pengantar jenazah dan mengangkat keranda ‘korban’ yang tewas.

Benarkah yang dilakukan Anies? Nanti dulu! Sepintas memang benar kelihatannya baik memberikan bantuan pengobatan. Tapi sayangnya, warga Jakarta tidak semuanya bisa dibodohi dengan taktik sikap manis seperti ini.

BACA JUGA:  BAHAYA LATEN KHILAFAH

Berbeda denga Aksi Mahasiswa Mei 98, opini warga Jakarta tidaklah positif untuk Aksi demostrasi 22 Mei, terlepas dari apapun pilihan politik mereka, tetapi polisi dan aparat keamanan jauh-jauh hari sudah menghimbau untuk tidak ikut (walau tidak bisa melarang karena itu Hak Ber-demokrasi), polisi juga memperingatkan potensi bahaya yang akan terjadi pada Aksi 22 Mei, mulai dari ditunggangi ‘pihak jahat’ sampai terorisme.

Tapi si Bapak Gubernur melakukan langkah ‘Anti Mainstream’ dengan aparat pada umumnya. Alih-alih memperingatkan apalagi melarang, Anies justru mengatakan bahwa pemerintah DKI Jakarta SIAP MENANGGUNG biaya pengobatan jika ada peserta yang terluka.

Tidak perlu intelejensi tinggi untuk bisa menyimpulkan statement ini sama saja dengan menyatakan bahwa Anies Baswedan secara politik mendukung acara demo 22 Mei itu.

Sekitar 6 orang tewas sebagai korban kerusuhan 22 Mei 2019. Mereka yang tewas karena berada di dekat tempat kerusuhan.Apakah korban yang 6 orang pada kerusuhan 22 Mei itu sudah pasti pelaku kerusuhan? Tentu saja belum tentu. Kemungkinan besar memang mereka demonstran, kemungkinan juga bisa mereka hanya orang yang ingin menonton dan ketiban sial jadi sasaran.

Tapi bagaimanapun , kita semua tahu, bukan langkah yang pintar apabila terjadi kerusuhan kita bukannya lari menghindar malah menonton. Dalam kerusuhan apapun bisa terjadi, kenapa malah ditonton bukannya dihindari?

Secara umum kita semua tahu bahwa semua ini dibutuhkan tanggung jawab seorang pemimpin. Dan kali ini, penanganan seorang Gubernur Jakarta dibandingkan dengan kerusuhan 98 sangat berbeda. Tahun 98 dulu kelompok perusuh mengcaukan ibu kota, dan Gubernur Bang Yos mengambil inisiatif untuk melindungi warganya.

BACA JUGA:  The Seven Commandment of Jokowi

Namun pada kerusuhan 22 Mei 2019 kemarin justru terbalik, para perusuh malah di-fasilitasi dengan pengobatan gratis rumah sakit, dan bahkan jika mati pun diberikan fasilitas kuburan, bahkan mayatnya diangkat oleh Sang Gubernur.

Apa itu Gak GILA?!!

33 thoughts on “Siasat ‘Cari Aman’ Anies Baswedan di Kerusuhan 22 Mei 2019

  1. Pingback: buy careprost

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *