Ingin seperti Nadiem Makarim ? Belajarlah I.T. dan Bahasa Pemrograman !

Akhirnya Nadiem Makariem, seorang kelahiran tahun 1985, dua tahun lebih muda dari saya, terpilih menjadi seorang pejabat tinggi di negara ini. Mantan CEO Decacorn Gojek ini ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Kabinet Indonesia Maju, dan aktif bekerja Okotber 2019.

Berita ini bukan hal yang terlalu mengherankan, hampir semua orang Indonesia pasti tahu nama itu. Orang yang benama Nadiem Makarim adalah sosok yang luar biasa, membangun Gojek menjadi sebuah perusahaan Decacorn dengan nilai kapitalisasi sekitar 14 milyar USD, Gojek disebut decacorn karena nilainya melebihi 10 milyar dollar, jauh di atas Unicorn yang kapitalisasinya mencapai 1 milyar dollar (Deca = sepuluh, Uni = satu).

Di balik ketakjuban orang dalam dan luar negeri pada Gojek, tentu banyak pro dan kontra mengenai sosok Nadiem Makarim dan Gojeknya. Nadim sebenarnya bukan orang yang memulai ‘dari bawah sekali’, dia berasal dari keluarga berada, kelahiran Singapura, mengenyam kuliah di Harvard Amerika, jelas dari sini dia memiliki koneksi sebagai modal membangung Gojek.

Gojek pun juga diterpa berbagai isu. Dimulai dari keluhan para mitra Gojek (baca: driver online) akan profit sharing yang terlalu sedikit, beban cicilan peralatan, bonus yang makin terpotong, ancaman regulasi Pemerintah yang membatasi. singkatnya: hidup makin sulit bagi sebagian besar driver online.

Sampai ke perusahaan Gojek itu sendiri diterpa berbagai isu miring mulai dari eksploitasi karyawan, tuduhan Gojek mendukung LGBT, hingga ancaman Gojek perlahan-lahan sudah diambil alih oleh asing karena Gojek sering di-inject modal dari asing tentu dengan bayaran saham yang dilepas. Pada era Pemilu ini sempat menjadi isu panas salah satu kubu karena sentimen ‘Anti Asing-Aseng’ (tapi beruntung Nadiem bukan ‘Aseng’). Yaah semakin tinggi pohon angin memang semakin kencang.

Tapi OK-lah, tulisan ini bukan untuk mengangkat pro dan kontra mengenai Gojek dan sosok Nadiem sendiri, namun saya akan lebih melihatnya dalam kapasitas saya sebagai seorang praktisi I.T. Mengenai bagaimana Gojek memperlakukan karyawannya, para driver online -nya; saya hanya bisa berkomentar: Well,.. itulah Kapitalisme.

Ada hal yang patut dibahas di sini yang berisi pembelajaran SANGAT BESAR, mengenai KENAPA perusahaan seperti Gojek bisa melesat jauh.

Jawabannya singkat: Karena mereka menguasai I.T.

Ya! Gojek adalah perusahaan teknologi, bukan perusahaan aplikasi kendaraan biasa. Dengan menjadi perusahaan teknologi Gojek akhirnya menjadi perusahaan transportasi yang disruptive. Apa artinya disruptive? Artinya merusak. Apa yang dirusak? Pola dan mainstream lama. Tentu saja, dulu mainstreamnya orang memesan ojek harus ke pangkalan, sekarang semua dilakukan serba online.

Gojek merupakan perusahaan teknologi yang menerapkan konsep Manajemen Big Data (Big Data Management / BDM), BDM adalah salah satu cabang teknologi Hilir I.T. yang sangat POWERFUL, bersamaan dengan 3 bidang teknologi hilir lainnya yaitu: Artificial Intelligent (A.I.) , Internet of Things (I.o.T), dan Nanotechnology . Keempat teknologi hilir ini akan dibahas secara singkat di tulisan saya yang lain.

Gojek menerapkan Big Data. Apa itu itu Big Data? Big Data cabang teknologi hilir I.T, yang kegiatannya utamanya menggali, mengumpulkan, mengelompokan, menganalisa, mengolah, dan pada akhirnya menggunakan data. Dan ukuran datanya ukuran yang sangat besar, bukan ukuran Giga lagi tetapi Terabyte, dan itu secara harian. Sebagai catatan Anda, Facebook tahun 2018 mengumpulkan sekitar 500 Terabyte data per harinya (sumber).

Darimana Gojek mendapatkan data? Pertanyaan bodoh, tentu saja dari konsumen mereka! Setiap kali ada konsumen yang memesan aplikasi, entah itu Go-Ride, Go-Pay, Go Food, apapun itu; semua itu tercatat dalam data rekaman histori transaksi. Dan satu hal yang perlu Anda tahu: semua data itu TIDAK HILANG BEGITU SAJA.

BACA JUGA:  Contoh Artikel Dalam Kategori Sains, Pendidikan dan Teknologi

Pun demikian dengan jejak digital lain, misalnya data yang Anda berikan di media sosial: status Anda di facebook, postingan Anda di Instagram, tweet Anda di twitter, bahkan chat Anda di WhatsApp, semua data itu TIDAK HILANG BEGITU SAJA.

Semua data itu disimpan, dikumpulkan, dikategorikan, lalu diolah, sampai akhirnya bisa dipergunakan untuk kepentingan mereka (atau pihak lain yang bersedia membayar mahal). Ingat kasus Cambridge Analytica-nya Facebook? Itu salah satunya.

Di dunia ini TIDAK ADA YANG GRATIS, ingat itu! Dan jika Anda mengira media sosial itu Gratis, itu sebenarnya TIDAK. Ada bayarannya yaitu: Privasi Anda.

Ambil contoh saja Gojek. Secara kasar boleh dibilang: Anda memakai Gojek berarti Anda telah menyerahkan harta Anda yang sangat berharga pada Gojek yaitu: privasi Anda. Kini dengan melakukan transaksi di Gojek, mereka bisa tahu siapa Anda, di mana rumah Anda, apa makanan kesukaan Anda, kemana Anda biasa suka nongkrong, berapa kira2 penghasilan bulanan Anda, bahkan mungkin saja… pilihan politik Anda.

You are NAKED now!

Inilah salah satu penyebab utama kenapa kapitalisasi Gojek bisa meroket hingga 14 milyar dollar. Sekalipun secara finansial mereka belum menutupi operasional, tapi mereka memegang uang dalam bentuk lain, yaitu : Data. Data adalah kekuasaan, karena dengan data Anda bisa mencari uang, dan dengan uang Anda bisa mendapat…well, Kekuasaan.

Artinya bolehlah disimpulkan: Mereka yang menguasai Data, berarti menguasai dunia.

Lalu bagaimana dengan Facebook, Google, Twitter, WhatsApp?… Well, silahkan analisa sendiri!

Dari Manajemen Big Data, ada satu bidang pekerjaan yang sangat menggiurkan sekaligus menantang yaitu profesi Ahli analis Data atau Data Analyst.

Data Analyst adalah suatu profesi yang sangat dibutuhkan dalam Manajemen Big Data, seorang Data Analyst profesional bisa digaji lebih dari $120,000 US dollar per tahun, dan ini belum termasuk tunjangan, bonus, dan lain-lain. Ini adalah gaji tertinggi dalam bidang profesional, mengalahkan profesi dokter bedah jantung, dan dalam struktur perusahaan profesi ini mungkin hanya bisa disaingi oleh CEO sendiri.

Lalu apa kaitannya semua profesi itu dengan bahasa pemrograman? Begini, menjadi Data Analyst bukan sesuatu yang mudah. Data Analyst rata-rata memiliki latar pendidikan S2 dan S3, mereka harus jago dalam ilmu statistika, matematika, mengusai minimal 2 bahasa asing dan memiliki logika analisa yang kuat. Dan seringkali, profesi yang paling mumpuni sebagai pijakan awal untuk itu adalah seorang Ahli Coding alias programmer.

Kenapa programmer? Tentu saja karena dua faktor: Pertama: mereka sudah terasah logikanya, dan kedua, mereka terbiasa untuk terus menerus belajar. Dunia I.T. adalah dunia yang sangat dinamis dan cepat sekali berkembang, seorang programmer harus selalu belajar agar tidak ketinggalan. Semua programmer dulunya juga pemula, belajar mulai dari menulis ‘Hello World’ sampai akhirnya bisa men-develop aplikasi yang Maha Rumit. Semua itu harus dipelajari.

Pertanyaannya sekarang: seberapa baik kualitas rata-rata programmer kita? Anda? Saya? Bangsa Indonesia secara keseluruhan ?

Sebelum membandingkan dengan negara lain, mari kita kembali melihat Gojek. Gojek mengisi para punggawa I.T. nya kebanyakan dari negara mana? Negara kita? SALAH! Dari India!

Gojek banyak merekrut ahli I.T. nya dari India, mereka memakai vendor beberapa startup teknologi India seperti AirCTO, C42 Engineering, Pianta, dan Leftshift Technologies (sumber).

BACA JUGA:  Contoh Artikel Dalam Kategori Sains, Pendidikan dan Teknologi

Sebelum kita menuduh Gojek tidak Nasionalis, ada baiknya kita introspeksi ke dalam dulu. Mengapa Gojek lebih percaya kepada Ahli Coding dari India ketimbang negara sendiri?

Hal ini bisa jadi karena memang pada kenyataannya ahli coding di negara ini kualitasnya belum mumpuni, ataupun kalau mumpuni , jumlahnya masih terlalu sedikit dari kebutuhan pasar (sumber).

Gojek tidak sepenuhnya salah, mereka realistis. Indonesia masih kekurangan tenaga ahli programmer dan mempersiapkannya butuh waktu lama. Gojek tidak mau menunggu untuk itu , Gojek adalah pebisnis bukan pendidik.

Beruntung sekarang berubah, mungkin hal inilah yang dilihat oleh Pak Jokowi, beliau melihat bahwa: Gojek dan perusahaan teknologi lain (seharusnya) mengambil tenaga ahli I.T. dari dalam negeri bukan dari luar. Mungkin ini penyebab utama kenapa posisi Nadiem justru menjadi Menteri Pendidikan, bukan Menristek. Karena Nadiem ditugaskan untuk sebanyak mungkin mencetak orang ‘seperti dirinya’.

Bagaimana dibandingkan dengan India? Apakah kita tertinggal jauh? Jawabannya SANGAT! India secara demografis dan ekonomi sama dengan kita, angka kemiskinan dan kesenjangan sosial di sana juga tinggi, ditambah dengan populasi penduduk besar di atas 1 milyar jiwa. Tetapi dibalik itu semua: India adalah raksasa I.T. di dunia.

Seluruh dunia sudah tahu bahwa kata I.T. dan Programmer murah kini identik dengan India. Programmer India banyak dipakai di mana-mana, Microsoft, Google, dan industri software lain meng-outsource pekerjaan mereka ke India. Bahkan kini CEO Google dan Microsoft adalah orang India. Menurut data statista, sekitar 7-9% GDP India disumbang hanya oleh lapangan kerja programmer-programmer ini (sumber).

Bagaimana India bisa semaju itu dalam hal I.T. ? Jawabannya tentu ini bukan proses SIM SALABIM dalam waktu setahun-dua tahun. Ini adalah program jangka panjang yang mereka lakukan untuk mendidik SDM nya. Ini adalah mimpi dari Pandit Jawaharlal Nehru untuk mewujudkan agar manusia India bisa tampil di kancah internasional melalui pendidikan. Inilah Kekuatan Visi dari seorang Pemimpin.

Tidak ada Kata Terlambat!!
Bisakah kita mengejar atau minimal menyamai India? Saya berkeyakinan: Tidak ada kata terlambat, asal kita mau berusaha. Di sini saya menawarkan alternatif 2 jalan yang saya pikir paling cepat (shortcut).

Pertama: kursus online.

Anda perlu tahu satu hal: Dibandingkan profesi I.T. dan profesi ahli yang lain, menjadi Programmer adalah yang TERMURAH! Untuk menjadi dokter Anda harus keluar uang ratusan juta masuk Fakultas Kedokteran, tetapi menjadi Programmer Anda bisa tinggal membeli laptop dan kuota internet, Anda tinggal belajar secara otodidak melalui online seperti yang selama ini saya lakukan (perlu Anda tahu saya sendiri bukan orang I.T., saya adalah lulusan Fisika).

Anda bisa Googling, lihat tutorial di Youtube. Anda tinggal mengikuti kursus dan tutorial online, yang gratis maupun berbayar, sekarang sudah menjamur di mana-mana. Itu pula sebabnya saya mendirikan ahlicoding.com. Saya sudah mengulas lembaga-lembaga kursus online nasional di tulisan saya yang lain.

Sekali lagi saya bilang: Modalnya hanya laptop dan internet. Skill awal yang Anda butuhkan cuman kemampuan ber-logika dan mengerti bahasa Inggris (karena sebagian besar literatur memang bahasa Inggris).

Tapi tentu saja: itu butuh Ketekunan. Tentu tidak akan bisa seseorang menjadi programmer hanya dalam waktu semalam, semua itu butuh proses, pembelajaran dan kesabaran..

Yang kedua: pendidikan I.T. semenjak Sekolah Dasar.

Tahun 2000-an, dosen saya berkunjung ke Bangalore, India. Dia masuk ke perkampungan dan melihat anak-anak kecil usia sekolah dasar sedang bermain laptop. Dosen saya mengira mereka bermain game, ternyata BUKAN! Anak-anak kecil itu sedang mengulik program coding bahasa Java!

BACA JUGA:  Contoh Artikel Dalam Kategori Sains, Pendidikan dan Teknologi

Anak-anak kecil itu ditugaskan guru mereka membuat program dengan bahasa pemrograman Java. Bayangkan! Di India anak-anak sekecil itu sudah diajari pemrograman! Akan jadi apa mereka ketika besar?! Sosok mereka boleh kampungan, tetapi pemikiran mereka sudah maju!

Mengapa kita tidak melakukan hal yang serupa? Mengajari anak-anak kita pemrograman dan I.T. sedari kecil? Sedari sekolah dasar? Bukankah saya bilang tadi: modalnya tidak terlalu besar, hanya butuh laptop dan koneksi internet?

Saya pikir memang ini yang ada di jalan pikiran Nadiem dan Pak Jokowi. Mungkin memang sekaranglah saatnya, dengan Nadiem menjadi mendikbud, boleh jadi pemrograman akan masuk ke dalam kurikulum sekolah.

Pemerintah sudah membuka jalan,dengan mengangkat Nadiem dan membangung infrastruktur Tol Langit, agar seluruh Nusantara bisa mengakses internet dengan cepat, dan mudah-mudahan ini juga disambut dengan kesiapan mental anak-anak kita untuk mau belajar I.T. Para orang tua juga harus dididik agar mereka mendidik anak-anak mereka untuk meng-eksplore I.T. secara benar, tidak hanya segi konsumtif, bermain game, nyebarin HOAX, atau membuat konten-konten sampah gak mutu di Youtube.

Btw kenapa ya konten sampah justru ratingnya tinggi dan viral? Yaah, inilah penyakit bangsa +62, sebabnya ada 3 : karena mereka nyinyir, berpikiran emosional dan serba instant. Itu sebabnya mereka dijuluki Generasi Micin , sebab maunya serba instant, ingin cepat mendapat hasil (kalau bisa tanpa usaha), ibarat masakan, seharusnya untuk membuatnya jadi enak harus dimasukkan bumbu yang diolah terlebih dahulu, tapi sekarang tinggal ditabur micin BYAR!! langsung enak.

Padahal kalau mereka mau tahu hikmah dibalik itu: Orang yang nyinyir adalah orang yang Bermental Miskin (dan orang miskin memang cenderung nyinyir), orang yang emosional itu gampang sekali diperbudak (lihat saja orang yang sedang marah atau jatuh cinta), dan terakhir kita tahu: segala sesuatu yang instant tidak akan bertahan lama. Semua itu butuh proses dan butuh waktu, untuk menjadi programmer saja butuh bertahun-tahun. Dan satu hal lagi: micin itu dapat MEMICU KANKER!

Buat konten sampah itu saya ada solusi: Acuhkan! Jangan dikomentari, jangan dihina atau dipuji, karena hasilnya akan sama saja: ratingnya naik (dan itu yang diharapkan si Pembuat konten bukan?). Solusi terbaik adalah dengan tidak dipedulikan, diacuhkan, di-Ignore, anggap saja tidak ada. Alihkan fokus Anda ke hal lain yang lebih bermanfaat.

Mudah-mudahaan saja Pak Jokowi dan Nadiem sendiri membaca tulisan ini. Akhir kata saya ucapkan selamat bekerja untuk Kabinet Indonesia Maju. Apapun pro dan kontra Nadiem Makarim, saya bersyukur dia lah yang menjadi Menteri Pendidikan. Setidaknya dia bisa menginspirasi banyak anak-anak muda negeri ini , mereka akan melihat Nadiem lalu berkata pada diri mereka: “Aku ingin seperti dia!”

Secara keseluruhan Nadiem dan Gojek nya adalah sumber inspiratif yang bagus dan positif. Nadiem mudah-mudahan bisa membangkitkan semangat anak muda untuk berkarya secara positif, agar anak-anak muda kita tidak memiliki pemikiran serba nyinyir, serba instant dan konsumtif. Bayangkan jika yang menjadi Menteri Pendidikan adalah Young Lex, Awkarin, Atta Halilintar, atau Rina Ricis. Mau jadi apa generasi muda bangsa ini?

Rian Irawan Hariadi
Praktisi I.T. , Founder ahlicoding.com
Bekerja sebagai Software Engineer di sebuah
Perusahaan I.T. di Jakarta

ahlicoding.com

ahlicoding.com

rumah saya di 127.0.0.1

79 thoughts on “Ingin seperti Nadiem Makarim ? Belajarlah I.T. dan Bahasa Pemrograman !

  1. Pingback: ciprofloxacina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *