Jika Arab Saudi dan Iran Berperang, Bagaimana dengan Umat Muslim Indonesia ? (Bagian 2)

Tulisan ini adalah Bagian Kedua dari tulisan penulis sebelumnya: Umat Islam Indonesia di Ambang Perang Saudara, Anda bisa membacanya di sini.

Banyak yang bertanya kepada kami perihal pengaruh proxy internasional terhadap perpecahan umat Islam di Indonesia: Islam Nusantara vs Islam Trans-Nasional. Dan pertanyaan yang paling sering diutarakan adalah kira-kira bertanya seperti ini: “Bagaimana nanti jika Arab Saudi dan Iran berperang , yang notabene adalah perang antara Sunni dan Syiah? Apa pengaruhnya terhadap umat Islam di Indonesia ?

Jawaban pertama dari pertanyaan itu adalah: “Sudah!”

Sudah apa?

Kedua negara itu SUDAH dan sedang berperang satu sama lain, korban jiwa dan harta benda juga telah jatuh, namun sayangnya: peperangan itu dilakukan tidak secara langsung, melainkan melalui proxy. Yaitu melalui negara-negara atau pihak yang menjadi kepanjangan tangan dari kedua negara tersebut.

Kita sudah maklum semenjak perang dingin berakhir, adalah suatu ciri khas jika negara-negara superpower mereka membentuk blok atau poros yang dimana di dalamnya tergabung juga proxy-proxy yang menjadi kaki tangan mereka. Dan kita melihat saat ini ada 2 proxy yang sangat kuat di dunia yang saling bermusuhan rebutan pengaruh, yang mereka siap untuk berperang satu sama lain secara terbuka di perang dunia ketiga.

Yang pertama adalah proxy Iran atau yang disebut juga proxy Syiah. Negara besar yang tergabung dalam proxy ini adalah Iran, Tiongkok, dan Rusia, sedangkan proxy mereka diantaranya Suriah rezim Al Asssad, Yaman milisi Houti, dan Hezbollah.

BACA JUGA:  Nazi-isme Tak Pernah Mati

Sedangkan lawan mereka adalah proxy Arab Saudi, yang tergabung dalam proxy ini adalah Arab Saudi, AS, Uni Eropa, pemberontak Suriah, dan… Israel!

Eh, sebentar! Israel sekutu Arab Saudi? Jawabannya: BETUL! Kenapa ? Heran? Ini sudah menjadi rahasia umum bahwa kedua negara sudah bersekutu lama, hanya saja mereka tidak menampakannya di muka umum.

Perang Saudara Suriah, Yaman, dan konflik Uyghur pada intinya adalah perang proxy antara blok Iran versus Arab Saudi, di mana dalam kasus Suriah, Iran membela rezim presiden Basar Al Assad sedangkan Arab Saudi membela kaum pemberontak, sedangkan di Yaman sebaliknya, Iran membela pemberontak Houti sedangkan Arab Saudi membela Presiden Mansour Hadi yang digulingkan.

Konflik Uyghur. Nah, khusus mengenai konflik Uyghur ada sedikit ‘pengecualian’. Dalam konflik Uyghur baik Iran maupun Arab Saudi sama-sama membela China, sekalipun AS, sekutu utama Arab Saudi ‘tidak senang’, AS justru memojokkan China dengan mem-blow-up berita-berita kekejaman pemerintah China terhadap umat muslim Uyghur di Provinsi Xinjiang.

Hal ini mungkin disebabkan kepentingan ekonomi. China telah berkomitmen untuk berinvestasi 25 milyar US dollar di Arab Saudi, diantaranya adalah untuk membangun jalur kereta, dari Arab Saudi ke (coba tebak!) Israel!

Lalu apa pengaruhnya perang proxy ini dengan umat muslim di Indonesia?

Jelas ada, salah satunya adalah dengan penggiringan opini. Dalam perang Suriah, jika Anda berada di pihak Suriah (Syiah atau Iran), Anda bisa membaca tulisannya Deni Siregar atau Dina Sulaeman dalam bukunya Prahara Suriah yang menyatakan bahwa kekejaman di Suriah adalah HOAX dan rekayasa dari WhiteHelmets (sumber).

BACA JUGA:  Coding Mum, Ketika Emak-emak menjadi Programmer

Sedangkan jika Anda berada di pihak pemberontak, pihak Wahabi, atau Arab Saudi (yang dimana Amerika Serikat di belakang semua ini), maka informasi yang Anda dapatkan tentu berkisar tentang kekejaman Basar Al Assad, perjuangan Khilafah, bantuan kemanusiaan pengungsi Suriah (yang entah sampai atau tidak, wallahualam), Anda bisa membaca literaturnya dari narasumber Wahabi seperti Kiblat.net (sumber).

Demikian juga dengan konflik Yaman, konflik Uyghur, yang di mana.. AH!! Saya malas menjelaskan, silahkan cari tahu sendiri. Intinya masing-masing pihak punya versi beritanya sendiri-sendiri. Masing-masing punya kanal berita dan narasumbernya sendiri. Di pihak manapun Anda berada, Anda akan mudah menemukan berita-beritanya. Ada yang benar tapi banyak pula yang HOAX.

Jadi satu-satunya ‘filter’ untuk menyaring berita-berita itu adalah: Gunakanlah Akal Sehat Anda, dan jangan mudah terhasut secara emosional.

Lalu bagaimana sikap sebaik-sebaiknya?

Ini sekedar saran kami: Sikap terbaik untuk sementara adalah ‘Berhenti Sejenak’ dan bersikap ‘Tidak Peduli’ , sekali lagi, ini untuk sementara.

Mengapa? Kenapa kita harus bersikap tidak peduli? Bukankah umat Islam itu bersaudara? Bukankah muslim sedang dizalimi di Suriah, di Xinjiang (jika Anda di pihak Saudi), dan di Yaman (jika Anda di pihak Iran) ?

Baik, sebelum Anda berburuk sangka , kami jelaskan penyebabnya: Karena itu semua adalah Fitnah!

Ya semua prahara yang terjadi adalah Fitnah, dalam Fitnah kebenaran itu tertutup, bagaikan jalan yang tertutup kabut sangat tebal. Dalam hal ini jika Anda mencoba berlari yang Anda justru Anda malah celaka.

BACA JUGA:  PENGHAPUSAN UJIAN NASIONAL YG KONTROVERSIAL

Dalam Fitnah ini Anda sulit sekali menemukan kebenaran, karena masing-masing pihak memiliki kebenaran versinya masing-masing.

Ingatlah pesan Nabi dalam Hadist yang terkenal:

Cak Niar
Cak Niar Poros Ketiga
Bukan Cebong ataupun Kampret. Saya cuman berusaha jadi Orang Waras

Opini Cerdas menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berbicara. Kami mengundang Anda menjadi Penulis, SIAPAPUN dan DARI PIHAK MANAPUN boleh membagikan opini dan pemikiran secara cerdas dan bertanggung jawab, TANPA SENSOR! Klik di sini




Suka Artike ini? Tolong di-Like dan Share:
RSS
Follow by Email
Facebook0
Google+0
https://opinicerdas.com/2019/12/jika-arab-saudi-dan-iran-berperang-bagaimana-dengan-umat-muslim-indonesia-bagian-2
Twitter20
Instagram20

36 thoughts on “Jika Arab Saudi dan Iran Berperang, Bagaimana dengan Umat Muslim Indonesia ? (Bagian 2)

  1. Pingback: cialas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *