Kekejaman China pada Etnis Uyghur: HOAX atau Fakta?

Sudah bukan berita baru kita mendengar mengenai kekejaman Pemerintah Komunis Tiongkok kepada warga Etnis Uyghur di Provinsi Xinjiang, yang notabene mayoritas merupakan masyarakat muslim.

Tapi akhir-akhir ini isu tersebut semakin menyeruak di media sosial, hingga di Indonesia pun muncul tagar #indonesiastandswithuyghur di Twitter.

Sebenarnya sudah lama santer beredar kabar bahwa Pemerintah China membangun semacam kamp konsentrasi ala Nazi yang bertujuan mempersekusi dan menyiksa orang-orang Uyghur yang dicurigai. Di dalam kamp konsentrasi yang sanggup menampung hingga sejuta orang, warga muslim Uyghur mengalami proses di de-Islamisasi.

Kabar yang terdengar mereka dipaksa makan babi,minum alkhohol, menyanyikan lagu-lagu komunis. Dan melarang hal-hal yang berbau Islam, melarang puasa, apalagi sholat, dan bahkan mengucapkan ‘Insya Allah’ pun dilarang. Selebihnya yang ada di kamp itu adalah penyiksaan dan hukuman mati.

Pemerintah China berulang kali membantah berita ini, mereka mengatakan bahwa kamp itu adalah untuk pelatihan vodkasi, bukan untuk penyiksaan.

Tapi China tidak mengizinkan orang asing apalagi peneliti independen untuk turun langsung dan melihat apa yang terjadi di sana. Bagaimana seluruh dunia yakin hal itu adalah HOAX seperti yang dibantah oleh Pemerintah China jika mereka sendiri tidak bisa diselidiki secara independen ?

Kita maklum China Daratan adalah negara otoriter, dari jaman dahulu hingga sekarang, China Daratan alias Tiongkok adalah negara otoriter, hanya saja perbedaannya dulu yang berkuasa Kaisar sekarang Partai Komunis.Dan salah satu ciri khas dari negara otoriter adalah: Kontrol yang ketat atas Informasi alias sensor berita. Kebebasan pers sangat minim di China, semua berita dan pemberitaan dikontrol oleh negara.

Apa yang terjadi di Uyghur bagaikan berada di planet lain, bahkan mungkin dimensi lain. Tidak secuil informasi pun bisa keluar kecuali yang berasal dari corong resmi pemerintah Komunis China. Adapun info kekejaman China yang terjadi di sana didapatkan oleh orang-orang Uyghur sendiri yang berhasil melarikan diri dari negaranya.

Channel Youtube ‘China Uncessored’
Ada sebuah channel Youtube yang secara khusus ‘menelanjangi’ dan mengkritisi sepak terjang pemerintahan China, channel itu bernama China Uncessored (lihat di sini). Uniknya acara ini disajikan secara kocak namun tajam dengan host nya Chris Chappel yang entertainer. Dari channel inilah Anda bisa mendapatkan pemberitaan mengenai kekejaman Pemerintahan Komunis China terhadap kaum Uyghur.

Banyak juga media-media mainstream AS / Barat yang mengangkat isu ini, bahkan PBB pun sempat melakukan kecaman, tapi ini semua tidak didengar dan dibantah oleh China, sebab China memiliki Hak Veto di PBB, apapun sanksi PBB yang dikeluarkan atas China sudah pasti akan mentah.

BACA JUGA:  Kenapa keadaan Darurat Sipil tdk disukai pihak Oposisi dlm menanggulangi Covid-19 dan kenapa mereka sll menginginkan lockdown?

Suara penentangan justru banyak berasal media dan pemerintah Amerika Serikat. Kemarin tahun 2019 sebelum Pemilu RI diadakan, DPP Partai Keadilan Sejahtera bertemu dengan Anggota Kongres AS. Seperti dilansir dari Jawapos, salah satu agenda pertemuan itu adalah pembicaraan mengenai kerjasama mengenai penegakan HAM, dan salah satu isu yang diangkat adalah muslim Uyghur di Xinjiang yang dibawah penindasan China.

Pertanyaannya: Apakah Amerika memang membela etnis Uyghur ? Apakah mereka sekarang menjadi pembela Hak Asasi Manusia dan umat Islam?

Sebaiknya kita tidak senaif itu. Amerika melakukan itu semata-mata untuk menghantam China, untuk menjatuhkan citra China di mata dunia internasional. Motifnya adalah persaingan politik, bukan untuk tujuan kemanusian. Apa yang terjadi dengan Amerika membela Uyghur, sama seperti ketika mereka membela demonstran Hong Kong, agar supaya menyulitkan langkah China.

Lagipula kalau memang Amerika tulus membela umat muslim, kenapa tidak juga membela umat muslim Palestina, tetapi malah membela Israel. Jelaslah ini semua demi kepentingan politik, bukan demi kemanusiaan.

Masalah Berkepanjangan 
Apakah pemerintah China memang secara khusus membenci umat muslim Uyghur? Sebenarnya tidak. Pemerintah China membenci siapapun yang memiliki ideologi tidak sesuai dengan ideologi Partai Komunis. Entah itu Islam, Kristen, Budha, Aktivis demokrasi atau apapun yang dianggap bertentangan dengan Partai Komunis pasti dimusuhi.

Dulu China juga menyerang dan mempersekusi warga Tibet yang beragama Budha, ketika mereka menyerbu dan menduduki Tibet tahun 1953 dan menjadikan Tibet sebagai provinsinya. Kemudian kasus Fahlun Gong, komunitas spiritual meditasi, anggotanya sampai dipersekusi karena jumlahnya terlalu banyak hingga di seluruh dunia sehingga dianggap mengancam ‘kestabilan negara’.

Tapi kasus Uyghur adalah kasus tersendiri, karena Uyghur lingkupannya adalah satu wilayah sendiri , dan berasal dari ras tersendiri berbeda dengan etnis Han yang mayoritas di China, kondisinya sama seperti Tibet tetapi lebih parah karena dasar agamanya berbeda. Dahulu sebelum Komunis berkuasa Budha dominan di China sehingga setidaknya ‘masih ada persamaan’.

Permasalahan Uyghur bukan hanya soal agama tetapi juga separatisme. Xinjiang dahulunya adalah sebuah negara tersendiri yang dinamakan Republik Tajikistan Timur, setelah Komunis berkuasa , wilayah ini diserang dan dijadikan provinsi Xinjiang China hingga saat ini.

Tahun 2008 sempat ada pemberontakan kaum Uyghur di Xinjiang, tetapi dengan cepat gerakan separatis itu dipadamkan. Semenjak itu China memperketat persekusi kepada warga sipil Xinjiang. Kontrol ketat atas kehidupan sosial diberlakukan, semua telepon selular disadap untuk ‘menyaring’ berita-berita ‘radikalisasi’, alat Pendeteksi Wajah (Face Recognition) dipasang di mana-mana untuk mencegah orang bepergian ke ‘tempat terlarang’. Warga Uyghur terlarang untuk memiliki passport dan bepergian keluar negeri.

BACA JUGA:  Mungkinkah pelantikan Jokowi digagalkan Lewat impeachment?

Dan yang terakhir tentu saja, pendirian kamp-kamp konsentrasi di berbagai tempat. Dari pantauan satelit di sini, ada banyak sekali tempat konsentrasi ini dibangun dalam skala masif.

Membela Uyghur Lebih Sulit dari Palestina.
Jika kita bandingkan umat muslim Uyghur dan Palestina, kita akan melihat umat muslim Palestina ‘jauh lebih beruntung’ ketimbang saudaranya di Xinjiang. Sekejam-kejamnya tentara Israel di Palestina, tetapi mereka belum sampai mempersekusi warga Palestina, memaksanya makan babi dan minum alkhohol . Israel masih ‘menghargai’ kedaulatan warga Palestina di Gaza dan West Bank, mereka tidak (atau setidaknya belum) memasang kamera pengintai di setiap sudut atau membangun kamp konsentrasi secara masif dan memenjarakan orang-orang Palestina.

Muslim Uyghur dan Palestina sama-sama terjajah. Namun secara hitung-hitungan membela kaum muslim Uyghur jauh lebih sulit daripada membela orang Palestina. Faktor utamanya tentu saja karena faktor penjajahnya dan faktor kepentingan.

Sebab pertama: dari segi jumlah tentara China sangat mayoritas dibandingkan dengan Uyghur. Di Palestina , justru Israel (Yahudi)-lah yang minoritas dikelilingi oleh mayoritas orang-orang Arab. Bicara soal kekuatan dan teknologi itu soal lain.

Dari soal agama, Yahudi setidaknya masih mengakui Tuhan, berbeda dengan China yang ateis murni. Makanya saya membantah jika orang Ateis mengatakan bahwa: agama tidak ada hubungannya dengan moral. Jelas ada! Segila-gilanya orang tapi jika dia masih ber-Tuhan maka setidaknya masih ada ‘rem’-nya. Buktinya : Israel tidak sebrutal China, karena mereka (setidaknya) masih percaya akan adanya Tuhan.

Kedua, hampir semua negara-negara muslim secara politik dan ekonomi berkepentingan dengan China, tak terkecuali Indonesia, Turki, dan bahkan Saudi Arabia. Tentunya demi alasan ini, maka seolah mereka menutup mata dan telinga , karena mereka tidak mau kepentingan nasionalnya terganggu jika hubungan dagang mereka dengan China rusak hanya ‘gara-gara Uyghur semata’ .

Bahkan uniknya Saudi Arabia, yang notabene merupakan salah satu sekutu Amerika di Timur Tengah, mengeluarkan sikap berbeda dengan sekutunya. Arab Saudi lebih membela China, tentu saja karena ada kepentingan dagang. Tahun 2018, Pangeran Mohammad Bin Salman meneken perjanjian investasi 28 milyar dollar AS dengan China di tanah Arab Saudi (sumber), dan saat itu juga mengeluarkan pernyataan: “China berhak melakukan tindakan pengamanan terhadap terorisme di Xinjiang”.

Bagaimana dengan Pemerintahan Indonesia? Secara kebijakan negara ini masih menganggap isu Uyghur bukan merupakan permasalahan agama, melainkan separatisme. Jadi sama seperti halnya antara kita dengan OPM.

Dengan beranggapan seperti ini Pemerintah Indonesia terkesan seperti ‘berdalih’ bahwa apa yang terjadi di sana hanyalah semata-mata karena China berusaha ‘mempertahankan kedaulatannya’ , kita tidak bisa seenaknya saja mencampuri separatisme negara lain. Tokh kita juga tidak senang kalo negara lain meng-intervensi dan membantu OPM, bukan ?

BACA JUGA:  Menghitung Suara Tokek: Perppu KPK Terbit/Tidak ?

Perkembangan terakhir Permerintah China bahkan mencoba ‘menyuap’ ormas-ormas keagaamaan besar, tidak terkecuali di Indonesia. Ketua PBNU sendiri bahkan sempat mengatakan bahwa ‘Penyiksaan yang terjadi di Xinjiang’ adalah HOAX. Entah dari mana dia mendapatkan data hingga bisa berkata seperti itu.

Faktor ketiga, dan ini yang paling menyakitkan: secara lokasi Xinjiang tidak memiliki figur historikal religius yang kuat di dalam keimanan umat Islam. Di Xinjiang tidak ada tempat suci, tidak ada makam Nabi, dan tidak sekalipun negeri ini pernah disebutkan dalam Al Quran ataupun Hadist, satu-satunya unsur Islam yang ada hanyalah penduduknya yang beragama muslim.

Sedangkan di Palestina banyak sekali tempat suci, di sana ada Masjid Al Aqsha, jelas-jelas merupakan heritage bagi umat Islam. Tanah ini juga disebutkan beberapa kali dalam Al Quran dan Hadist.

‘Apa manfaatnya membela Uyghur?’
Uyghur benar-benar di anak tirikan, bahkan oleh saudaranya sendiri sesama umat muslim. Umat Islam di seluruh dunia jauh lebih tertarik membela Palestina ketimbang umat muslim Uyghur.

Orang-orang muslim di seluruh dunia memiliki alasan yang kuat untuk membela orang-orang Palestina. Sedangkan di Xinjiang apa alasan yang kuat? ‘Apa manfaatnya membela Uyghur? Di sana tidak ada Masjidil Aqsa?’ kira-kira mungkin begitu jika ditanya alasannya.

Dan membela Uyghur juga lebih berbahaya dibandingkan membela umat Islam di ‘negara lemah’ seperti di Rohingya, Myanmar. Cina sama sekali bukan negara lemah, mencari gara-gara dengan China implikasinya bisa
merusak kemitraan dengan China, yang merupakan mitra dagang terbesar, akhirnya bisa berakibat fatal ke perekonomian.


Mau apa dikata bahwa posisi tawar umat Islam di dunia memang sedang di titik serendah-rendahnya. Produk Israel bisa saja diblokade (diboikot), tapi produk China? Produk China sudah terlanjur dibutuhkan oleh orang-orang di seluruh dunia. Ibarat narkoba, jika diblokade yang ada mampus sendiri orang yang memblokadenya.

Yah, memang benar, di Xinjiang tidak ada Masjid Al Aqsha, di sana tidak ada apa-apa. Tapi jangan lupakan Hadist Nabi Muhammad SAW yang mengatakan bahwa : “Seluruh umat muslim itu bersaudara bagaikan anggota tubuh, apabila salah satu bagian terluka maka yang lain pun akan merasakan sakit”

Afandi Irwan
Afandi Irwan 
Mahasiswa Ilmu sosial

Opini Cerdas menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berbicara. Kami mengundang Anda menjadi Penulis, SIAPAPUN dan DARI PIHAK MANAPUN boleh membagikan opini dan pemikiran secara cerdas dan bertanggung jawab, TANPA SENSOR! Klik di sini




Suka Artike ini? Tolong di-Like dan Share:
RSS
Follow by Email
Facebook0
Google+0
https://opinicerdas.com/2019/12/kekejaman-china-pada-etnis-uyghur-hoax-atau-fakta
Twitter20
Instagram20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *