Umat Islam Indonesia di Ambang Perang Saudara. (Bagian 1)

Pasca pemilu 2019 banyak orang berharap sentimen ‘cebong-kampret’ segera berakhir, namun dugaan mereka salah. Sentimen agama tetap saja dimainkan di semua lini. Umat Islam di Indonesia seperti terpecah belah. Dan memang pada kenyataannya demikian. Hingga hari ini umat Islam di Indonesia sering ‘berperang’ antar sesamanya di media, baik media sosial dan media massa.

Adapun pihak-pihak yang bermusuhan dalam hal ini, jika kita mau mempetakan permasalahannya, maka ada dua golongan besar umat Islam di Indonesia yang saat ini saling bermusuhan satu sama lain.

Jika dulu budayawan Cliffort Greetz mengkategorikan umat Islam di Indonesia terbagi menjadi 3 golongan: Islam Santri, Islam Priyayi, dan Islam bangsawan. Maka sekarang ini penggolongannya hanya dua, tapi sayangnya kedua golongan ini sangat diametral dan boleh dibilang bermusuhan satu sama lain.

Golongan itu adalah Golongan Islam Nusantara (tradisional) versus Golongan Islam Trans-Nasional, atau boleh juga dibilang Golongan Islam NKRI versus Golongan Islam Khilafah, atau dari metode pembawaan dakwah mereka boleh juga dibilang: Golongan Islam moderat dan Islam Radikal, atau dari komunitasnya bisa juga dibilang: Islam NU versus Islam Wahabi.

Dan kedua golongan inilah yang kemungkinan di masa depan akan berseteru. Saat ini keduanya sudah sporadis ‘berperang’ di media sosial, akankah peperangan itu akan menyebar hingga dunia nyata? Mudah-mudahan tidak.

Peperangan antar umat muslim ini boleh disebut sebagai Fitnah, dan mungkinkah ini termasuk ke dalam nubuwat Fitnah Akhir Jaman? Wallahualam. Tapi mari kita mencoba menganalisa kemungkinan-kemungkinan itu.

Umat Islam Indonesia kini bisa dipetakan ke dalam dua bagian besar : Islam tradisional dan Islam trans-nasional. Dan sekarang, kedua kubu inilah pangkal perpecahan umat Islam Islam.

Mari kita coba menganalisa sejarah, perpecahan ini terjadi semenjak awal reformasi.

Umat Islam tradisional memang masih memiliki basis massa besar, tapi perlahan-lahan mulai tergerus oleh basis massa Islam trans-nasional.

Sifat dan Karakter Islam Tradisional.

Secara historis dan demografis, Islam Tradisional adalah ‘gaya hidup dan budaya’ umat Islam di Indonesia yang mayoritas semenjak Islam pertama kali masuk hingga sekarang, atau setidaknya hingga akhir Abad ke -20, yaitu ketika dakwah Islam Trans-Nasional masuk dan mulai ‘mengusik’ keberlangsungan Islam Tradisional.

Segala macam budaya umat Islam di Nusantara (yang di mana Anda dan orang tua Anda pun mungkin sudah mengalaminya) seperti kendurian, tahlilan, shalawatan, ziarah kubur, maulidan, ketupat, sungkeman saat Lebaran dan lain-lain.

BACA JUGA:  SIKM (Surat Izin Keluar Masuk) adalah PERAMPOKAN!

Memang kesemua hal itu tidak ada dalam sumber fiqh hukum Islam formal (sunnah), itu semua proses budaya, dari hasil akulturasi dan interaksi sosial yang dinamis.

Semua itu adalah ‘budaya’ umat Islam tradisional, dan semua itu hanya ada di Nusantara (pernah dengar ketupat lebaran di Arab?). Karena semua itu hanya ada di Nusantara, maka boleh dibilang Islam Tradisional sebagai Islam Nusantara.

Islam Nusantara bukan sebuah agama baru, itu hanyalah sebuah metode dakwah (manhaj).

Menurut Ahmad Rajafi, Islam Nusantara bukanlah nama sebuah agama baru, ia hanyalah sebuah istilah yang mempresentasikan model dakwah ahlussunnah wal jama’ah yang dibawa oleh para pendakwah Islam awal di Nusantara yang mengusung nilai dakwah Islam yang Tawasuth (Moderat), Tasamuh (Toleran), Tawazun (Seimbang), I’tidal (Berkeadilan). (sumber)

Islam tradisional memiliki kultur cenderung moderat, inklusif, toleran, nasionalis, namun kelemahannya: mereka pasif, stagnan, malas, dan cenderung abai pada dinamika yang ada, karena mereka merasa nyaman dengan posisi mereka sebagai ‘silent majority’, akibatnya mereka terlena.

Islam tradisional boleh dibilang sebagai ‘Islam kultural’. Nikmatnya menjadi orang Islam tradisional adalah : hidup mereka adem-ayem, cenderung damai, dan toleran.

Orang-orang Islam tradisional bolehlah dijuluki sebagai “Islam NKRI”, sebab mereka mencintai bangsanya, tapi tidak haus kekuasaan. Oleh karena itulah mereka sering ‘dimanfaatkan’ oleh kubu nasionalis dan para politisinya demi syahwat kekuasaan mereka. Menjelang pemilu, kaum Islam tradisional selalu ‘didekati’, dijanjikan ini-itu oleh politisi, tapi ketika sudah terpilih, kekuasaan sudah diraih, mereka dilupakan. Habis sepah manis dibuang.

Tapi biarlah, Umat Islam tradisional tidak marah diperlakukan seperti itu, mereka senang-senang saja, mereka nrimo. Siapapun yang jadi presiden ya monggo, siapapun yang berkuasa silahkan, asal kehidupan mereka sebagai umat Islam tidak diganggu.

Sifat dan Karakter Islam Trans-Nasional

Yang dimaksud Islam Trans-Nasional merupakan ajaran dakwah yang berasal dari Timur Tengah. Mungkin kedengarannya membingungkan karena memang Islam berasal dari Timur Tengah juga, tapi dalam hal ini konteksnya, Islam Trans-Nasional adalah metode dakwah yang masuk ke Nusantara di akhir Abad 19, dan mulai masif di akhir Abad 20 setelah Orde Baru tumbang.

BACA JUGA:  Contoh Artikel Dalam Kategori Hiburan dan Gaya Hidup

Basis massa Islam trans-nasional adalah PKS, Salafi-Wahabi, HTI, LDII, dan juga…tidak terlewatkan : Syiah rafidhah.

Satu hal yang menonjol dari Islam Trans-Nasional adalah bersifat puritan ekstrim, memaknai sumber hukum Islam secara tekstual tanpa ada atau sedikit sekali toleransi terhadap budaya asal. Karena memaknai sumber hukum Islam secara tekstual maka wajar penerapan Hukum Syariat dan negara Islam secara formal adalah cita-cita yang harus diwujudkan, seringkali tanpa kompromi sama sekali terhadap realita politik dan sosial yang berlaku.

Metode dakwah Islam Trans-Nasional adalah bersifat progressif, terstruktur, sistematis, dan lebih mengarah pada indoktrinasi . Mereka lebih menekankan pada dogma, ketimbang pemahaman atau kebijakan. Dengan alasan keimanan maka apa yang diajarkan oleh Pengajar, Guru, Ustad, Murabbi, wajib dipercaya, dipatuhi dan dilaksanakan tanpa boleh dipertanyakan apalagi dikritisi, ini dikenal dengan istilah ‘Sami Ana wa Tonna‘ (Kami dengar dan Kami Taat). Singkatnya, daya kritis dan kemampuan autokritik dikerdilkan dalam metode dakwah Islam Nusantara.

Dengan sifat-sifat demikian maka wajarlah jika kader-kader gerakan Islam Trans-Nasional bersifat militan, sebab pola dakwahnya memang demikian,
mirip dengan doktrin komando militer, hanya saja dengan memakai agama.

Hal ini kontras dengan basis Islam trans-nasional. Sifat dakwah dan cenderung menyasar ke kaum urban. Hal ini bisa terlihat dari bagaimana mereka melakukan metode dakwah dalam bentuk haraqah atau kelompok.

Perkembangan terkini, jika orang-orang Islam tradisional dijuluki sebagai ‘Islam NKRI’ maka orang-orang Islam trans-nasional bisa dijuluki sebagai ‘Islam Khilafah’.

Awal Permusuhan

Secara latar belakang, umat Islam Nusantara telah hidup berabad-abad di Indonesia, mereka telah berkontribusi dalam perjuangan bangsa ini dalam meraih kemerdekaan.

Umat Islam tradisional bisa dibilang umat Islam yang ‘tenang’ menikmati hidupnya di Nusantara ini. Mereka berpikir tidak akan ada sesuatu pun yang akan mengancam atau membahayakan kehidupan mereka. sebuah anggapan yang kemudian terbukti salah, dan mereka sudah lama terlena.

Tak ada permasalahan mengenai adat istiadat yang dilakukan oleh umat Islam Nusantara. Dari dulu sudah ada yang namanya tahlilan, kendurian, maulidan; tidak ada seorang pun yang mempermasalahkan hal ini, semua hidup tenang, aman, dan damai.

Tapi semua berubah saat Negara Api menyerang.

Awal Abad 21, Gerakan dakwah Islam Trans-Nasional mulai masuk secara sistematis, mereka umumnya masuk melalui jalur pendidikan dan politik praktis.

BACA JUGA:  Melihat Penembakan Massal New Zealand dari Perspektif Psikologi

Jika Anda membaca Buku “Ilusi Negara Islam” , (Anda bisa mengunduhnya di sini) , Anda bisa mengetahui sepak terjang gerakan Islam Trans-Nasional. Dimulai dari Ikhwanul Muslimin, Gerakan yang berasal dari Mesir ini men-transformasikan diri menjadi gerakan politik melalui Partai Keadilan.

Dibandingkan dengan Islam Nusantara, Islam Trans-Nasional memiliki budaya yang lain sama sekali (kalau mau itu disebut budaya, tapi lebih cocok disebut sistem dakwah). Alih-alih mencoba hidup menyesuaikan diri dengan keadaan dan kultur bangsa Indonesia, mereka justru terkesan ‘memaksakan’ agar budaya bangsa inilah yang harus sama dengan budaya (yang dianggap Islam) yang mereka bawa.

Dua dalih yang sering kita dengar dari pengusung Islam Trans-Nasional adalah Pemurinan Islam (Puritan) dan kehidupan Islam kaffah.

Dan dari sinilah kedua kubu itu akan berseteru: Islam NKRI versus Islam Khilafah.Kedua belah pihak sama-sama bangsa Indonesia, sama-sama umat muslim, tapi keduanya telah terkena fitnah perpecahan.

Dan kini keduanya di ambang perang saudara.Di media sosial, perang sudah meletus dan tengah berkecamuk. Mungkinkah ini akan terbawa hingga dunia nyata? Wallahualam, tapi tanda-tanda ke arah sana memang sudah terlihat.

Bagaimanakah seharusnya sikap seorang Muslim yang benar?

Mungkin saja Anda yang membaca tulisan ini berasal dari salah satu kubu, entah itu kubu Islam Nusantara atau Islam Khalifah. Namun satu hal yang harus Anda tahu bahwa kami, Gerakan Poros Ketiga, tidak mendukung salah satu pihak manapun. Kami mencoba netral. Tapi di sini kami menganalisis bahwa apa yang terjadi pada umat sekarang memang sedang dirundung perpecahan.

Untuk itu kami sedikit demi sedikit akan memberikan pandangan lain yang mudah-mudahan bisa memberika pemikiran alternatif.

Pertama, Sadarilah, ini semua adalah Fitnah Perpecahan

Kedua: Jangan Terlalu Mudah Men-cap Orang sebagai Kafir

Ketiga: Berhati-hatilah dengan Media, Baik Media Sosial dan Media Massa 

Karena itu saudaraku, sebelum terlambat, marilah kita mencegah benturan antar umat tersebut.

Tapi jikalau pun Anda tidak bisa memadamkan api fitnah perpecahan umat Islam di Indonesia, maka setidaknya janganlah ikut-ikutan meniup apinya.

Cak Niar
Cak Niar Poros Ketiga
Bukan Cebong ataupun Kampret. Saya cuman berusaha jadi Orang Waras

Opini Cerdas menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berbicara. Kami mengundang Anda menjadi Penulis, SIAPAPUN dan DARI PIHAK MANAPUN boleh membagikan opini dan pemikiran secara cerdas dan bertanggung jawab, TANPA SENSOR! Klik di sini




Suka Artike ini? Tolong di-Like dan Share:
RSS
Follow by Email
Facebook0
Google+0
https://opinicerdas.com/2019/12/umat-islam-indonesia-di-ambang-perang-saudara-bag-1
Twitter20
Instagram20

51 thoughts on “Umat Islam Indonesia di Ambang Perang Saudara. (Bagian 1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *